Karena itu, harapan ke perguruan tinggi jadi lebih berat. Kampus dituntut tak sekadar mencetak sarjana yang pintar secara teknis.
“Tetapi juga berintegritas tinggi, memiliki nasionalisme kuat, dan keberpihakan nyata kepada masyarakat serta bangsa Indonesia,” tegas Brian.
Pesan ini, kata dia, adalah refleksi sekaligus amanat besar. Para pemimpin akademik dianggap sebagai pengawal keilmuan yang akan menentukan arah bangsa ke depan. Dan perhatian Prabowo terhadap dunia kampus ini rupanya bukan sekadar formalitas. Pertemuan Kamis itu adalah yang ketiga kalinya dalam kurun waktu kurang dari setahun. Isyaratnya jelas: dunia pendidikan tinggi benar-benar dipandang sebagai mitra strategis.
Pada akhirnya, semua bermuara pada satu hal. Potensi besar Indonesia harus diimbangi dengan SDM unggul dan penguasaan sains-teknologi. Itulah fondasi untuk membangun kemandirian dan daya saing di kancah global.
“Ini adalah tantangan sekaligus panggilan bagi perguruan tinggi,” kata Brian, menutup penjelasannya. Panggilan untuk memainkan peran yang lebih nyata dan signifikan. Bukan hanya di menara gading, tapi langsung dalam menjawab tantangan zaman.
Artikel Terkait
BCA Tutup Satu Hari untuk Isra Mikraj, Layanan Digital Tetap 24 Jam
Ragunan Sepi Pagi Ini, Meski Libur Panjang Telah Tiba
Ganjil-Genap Jakarta Ditiadakan, Pengendara Bebas Berkendara Hari Ini
Lautan Kendaraan Serbu Puncak, Polisi Terapkan Rekayasa One Way