Program PAG sendiri udah berjalan sejak akhir 2025. Rangkaiannya cukup panjang, mulai dari akselerasi bisnis online, lalu lanjut ke kelas scaling up dengan mentor dari Universitas Gadjah Mada. Sepuluh champion yang terpilih dapat pembekalan intensif, termasuk menyusun rencana perbaikan bisnis dan aspek finansial.
Memasuki Januari 2026, tahapannya makin seru: tim asesor turun langsung ke lapangan untuk kunjungi lokasi usaha masing-masing champion. Tujuannya untuk cocokkan dokumen perencanaan dengan kondisi riil di lapangan mulai dari aset, kapasitas produksi, sampai stok bahan baku. Dari sini, data baseline bisa ditetapkan.
Tak cuma itu, kunjungan ini juga untuk finalisasi target kinerja yang terukur, jadi dasar pemantauan dan persiapan pencairan hibah. Sekaligus mengecek kesiapan untuk skema kolaborasi atau agregasi dengan UMKM lain.
Melalui PAG, Pertamina ingin tegaskan komitmennya. Mereka mau dukung UMKM pangan jadi pelaku usaha berstandar dan berdaya saing, yang kontribusinya nyata buat ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat.
Sebagai perusahaan energi, Pertamina juga sedang fokus pada transisi. Komitmen mereka pada target Net Zero Emission 2060 dan Sustainable Development Goals (SDGs) diwujudkan lewat program-program seperti ini. Semua upaya ini bagian dari transformasi perusahaan yang mengedepankan tata kelola baik, pelayanan publik, serta prinsip-prinsip ESG di setiap lini bisnisnya.
Artikel Terkait
Gagal Bayar Rp1,2 Triliun, Kasus DSI Sampai ke Istana
Rully Anggi Akbar: Sate Man Bertahan, Bisnis Terpukul Laporan Polisi
Cak Imin Peringatkan Ancaman Ganda Pasca-Bencana: Kemiskinan Melonjak, Kelas Menengah Menyusut
Persija Rekrut Fajar Fathur Rahman, Bek Sayap Andalan untuk Gempur Gelar Juara