"Kita harus agile. Bulan ini mungkin optimistis, tapi Februari bisa saja ada hal baru. Makanya kita perlu punya tabungan atau buffer untuk menghadapi skenario terburuk,” katanya.
Di sisi lain, strategi defensif ini tidak berjalan sendirian. Mereka mengombinasikannya dengan upaya penguatan pendapatan berbasis komisi. Di sini, aplikasi Livin’ by Mandiri dan transaksi treasury jadi andalan. Pendekatan ini dianggap bisa menjaga pertumbuhan laba tanpa selalu mengandalkan penyaluran kredit yang notabene menggerus modal.
“Fee itu penting karena sifatnya berkelanjutan dan bebas kapital. Ini strategi kami untuk menopang pertumbuhan laba di luar pendapatan bunga,” pungkas Laurencius.
Jadi, intinya jelas: optimis, tapi tetap waspada. Mereka menyiapkan payung sebelum hujan, sambil terus berusaha mencari sumber pendapatan baru yang lebih stabil. Sebuah langkah bijak di tengah dunia yang serba tak pasti.
Artikel Terkait
DJP Catat Lebih dari 5,2 Juta Laporan SPT Tahunan 2025, Mayoritas via Digital
DEN Khawatir Konflik Iran-Israel Picu Lonjakan Harga BBM di Indonesia
Iran Tegaskan Penolakan Negosiasi dengan AS, Bantah Laporan Pembukaan Dialog
BMKG Pastikan Gerhana Bulan Total Terlihat di Indonesia pada 3 Maret 2026