Optimisme di kalangan perbankan untuk tahun 2026 ternyata masih cukup menggembirakan. Likuiditas yang terjaga dan stabilitas pemerintahan baru menjadi angin segar, meski tentu saja angin itu bisa berubah arah sewaktu-waktu. Laurencius Teiseran, Head of Investor Relations Bank Mandiri, termasuk yang melihat tahun depan dengan harapan. Menurutnya, 2026 berpotensi lebih baik ketimbang 2025 yang dinilainya penuh dengan fase penyesuaian. Kehadiran institusi baru seperti Danantara juga diharapkan bisa jadi penopang bagi perekonomian nasional.
Tapi jangan salah. Optimisme itu tidak buta. Laurencius dengan tegas menyoroti ancaman yang masih mengganjal: risiko geopolitik global. Ini adalah faktor yang sepenuhnya di luar kendali mereka. Gejolak harga komoditas, sebut saja minyak dan batu bara, plus fluktuasi nilai tukar yang tak menentu, bisa langsung menghantam kinerja ekspor Indonesia.
“Risiko terbesar justru dari luar. Kita tidak bisa serta merta melihat 2026 tanpa risiko. Karena itu, Bank Mandiri tidak hanya punya Plan A, tapi juga Plan B, C, hingga D,” ujar Laurencius dalam The Fundamental IDXChannel, Kamis (15/1/2026) lalu.
Nah, untuk mengantisipasi segala ketidakpastian itu, Bank Mandiri memilih langkah yang cenderung konservatif. Mereka menyiapkan bantalan atau buffer yang kuat, baik dari sisi permodalan maupun pencadangan kerugian. Strateginya mirip dengan cara sebuah rumah tangga mengelola keuangannya.
Laurencius mengibaratkannya seperti dana darurat. Ketika sesuatu yang tak terduga datang menghantam, bank ini masih punya daya tahan solid tanpa harus mengorbankan operasional utamanya.
Artikel Terkait
Hercules Angkut 240 Mahasiswa STIS ke Medan Bencana Sumatera
Harga Ekspor Tembaga dan Emas Melonjak, Sinyal Permintaan Global Masih Menggebu
Pemerintah Tahan B40 Sampai 2026, B50 Ditunda Gara-gara Harga CPO Melebar
AS Luncurkan Fase Kedua Rencana Gaza: Dari Gencatan Senjata ke Pemerintahan Teknokrat