Kantor Pengawasan Aset Asing di Departemen Keuangan AS pun tak kunjung merespons permintaan komentar. Memang, mereka punya kebiasaan tak berkomentar soal lisensi spesifik macam beginian.
Sebenarnya, isu perluasan lisensi untuk Chevron ini sudah mengemuka sejak pekan lalu. Reuters melaporkan, negosiasi sedang berjalan agar Chevron bisa mengekspor lebih banyak minyak mentah, baik ke kilangnya sendiri maupun ke pembeli lain. Bahkan, jika diizinkan, mereka berpotensi memperdagangkan sebagian produksi milik PDVSA, perusahaan minyak negara Venezuela.
Posisi Chevron di Venezuela memang unik. Saat ini, merekalah satu-satunya perusahaan minyak besar AS yang masih memproduksi di sana, lewat usaha patungan dengan PDVSA yang menghasilkan sekitar 240.000 barel per hari.
Operasi mereka sebenarnya sudah berjalan sejak Juli lalu di bawah payung izin terbatas dari AS, yang membuatnya kebal dari sanksi. Namun begitu, sejarah lisensi mereka cukup berliku. Antara akhir 2022 dan awal 2025, izin yang lebih longgar sempat membuat produksi dan ekspor melesat, fasilitas diperbaiki. Sayangnya, tahun lalu, sebagai bagian dari strategi tekan Washington untuk menjatuhkan Maduro, izin itu dipersempit lagi. Imbasnya, ekspor pun terpangkas separuh dari angka di awal 2025.
Perkembangan politik terbaru rupanya memberi angin segar. Saham Chevron sendiri telah melonjak hampir 9 persen. Kenaikan itu terjadi setelah pasukan AS menggulingkan Maduro awal bulan ini dan Delcy Rodriguez mengambil alih kursi kepresidenan sementara.
Nah, sekarang tinggal tunggu keputusan resmi dari Washington. Apakah keran minyak Venezuela akan dibuka lebih lebar? Semua mata tertuju ke sana.
Artikel Terkait
Roby Tremonti Merasa Disindir Aurelie Lewat Karakter Bobby dalam Buku
Korea Selatan Suntik Rp 128 Miliar untuk Pastikan Keakuratan Isi Daya Kendaraan Listrik RI
PELNI Logistics Pacu Bongkar Muat Hampir 60 Ribu TEUs pada 2026
Hindari Kamar Berakhiran -01 dan -02 Jika Ingin Tidur Nyenyak di Hotel