Harga minyak sawit atau CPO kembali melemah di pasar Malaysia pada Rabu (14/1/2026). Sentimen negatif datang dari dalam negeri, terutama dari kabar penundaan program biodiesel B50 yang sempat dinantikan pasar.
Kontrak berjangka CPO tercatat turun 0,49 persen ke level MYR 4.043 per ton. Angka ini turun dari posisi tertinggi satu bulan di MYR 4.090 yang dicapai dua sesi sebelumnya. Penurunan di akhir sesi itu, menurut sejumlah analis, dipicu oleh melemahnya permintaan untuk substitusi biofuel.
Lalu, ada faktor eksternal yang tak kalah kuat: ketegangan geopolitik di Iran. Pasar sepertinya sedang menghitung ulang risiko gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah. Kalau pasokan minyak bumi terganggu, imbasnya akan terasa sampai ke rantai pasokan bahan baku biodiesel di Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Malaysia.
Volatilitas harga minyak mentah dunia memang selalu punya hubungan erat dengan keputusan biodiesel kita. Mandat B40, B50, atau berapa pun persentasenya, sangat bergantung pada selisih harga antara minyak mentah dan CPO. Nah, soal B50 ini, pemerintah tampaknya memilih untuk lebih hati-hati.
Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, arahan Presiden Prabowo Subianto adalah tetap menjalankan mandatori B40 untuk tahun ini.
“Kita akan selalu melihat perbedaan harga antara harga fuel oil, harga BBM, dengan harga kelapa sawit, deltanya berapa. Kajian B50 diteruskan, uji coba otomotif juga lanjut. Jadi kita tergantung pada dinamika harga,” jelas Airlangga.
Jadi, opsi B50 masih digodok, menunggu hasil kajian lebih lanjut terkait pergerakan harga.
Di sisi lain, data dari lapangan justru menunjukkan aktivitas ekspor yang cukup bergairah. Para surveyor kargo melaporkan, pengiriman minyak sawit dari Malaysia pada sepuluh hari pertama Januari melonjak antara 18 hingga 29 persen dibanding bulan sebelumnya. Impor dari China juga ikut naik, mencatatkan pertumbuhan terkuat dalam tiga bulan terakhir sepanjang Desember, didorong permintaan akhir tahun.
Dengan permintaan yang lumayan tinggi ini, harga CPO sebenarnya masih mampu naik 0,92 persen dalam sebulan terakhir. Tapi, jika dibandingkan dengan posisi setahun lalu, harganya masih terpangkas cukup dalam, sekitar 7,31 persen lebih rendah. Secara historis, puncak tertinggi harga komoditas ini masih jauh, yaitu MYR 7.268 per ton yang tercapai pada Maret 2022 silam.
Artikel Terkait
BMKG Proyeksikan Musim Kemarau 2026 Lebih Awal dan Panjang
Wamen Haji Larang Petugas Flexing di Medsos, Fokus pada Pendampingan Jamaah
Wamen Haji Ingatkan Petugas Fokus pada Jemaah, Bukan Flexing di Medsos
Brebes Siap Jadi Lokasi Peternakan Sapi Perah Terbesar, Targetkan 180 Ribu Ton Susu per Tahun