Demikian penegasan Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, awal pekan ini. Meski begitu, ia juga menyisipkan bahwa opsi militer tidak akan pernah dihapus dari meja perundingan jika situasi memaksa.
Langkah Trump ini sebenarnya bukan yang pertama. Ini adalah bagian dari tekanan ekonomi berlapis Washington terhadap Iran, yang sudah lama dikenai berbagai sanksi. Bahkan, tahun lalu, serangan terhadap fasilitas nuklir Iran dilakukan AS untuk mendukung Israel. Belum lama ini, ancaman intervensi militer untuk melindungi demonstran anti-pemerintah juga sempat menggema.
Namun begitu, bagi Indonesia, langkah-langkah itu tampaknya masih jauh dari urusan perut. Pemerintah, setidaknya dari pernyataan Airlangga, memilih untuk bersikap santai. Fokus tetap pada menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri, sambil mengamati dinamika geopolitik yang terus berubah dengan cepat.
Artikel Terkait
Kadin Rancang Kajian MBGnomics dan Siap Manfaatkan Peluang Tarif AS
Inspirasi Ceramah Singkat Ramadhan: Dari Kejujuran hingga Empati Sosial
Pemprov NTB dan ITDC Bahas Penanganan Banjir Terpadu di KEK Mandalika
Deva Mahenra Pulang ke Makassar untuk Antar Nenek ke Peristirahatan Terakhir