Faktor kedua datang dari sisi produksi. Modernisasi kilang lewat program RDMP di Balikpapan disebut-sebut bakal mengerek kapasitas produksi solar dalam negeri. Kilang itu ditargetkan bisa memproduksi 1,8 juta kiloliter solar per tahun. Efeknya, impor diprediksi tertekan sampai Rp14,9 triliun. Bahlil terlihat optimis.
“Alhamdulillah atas perintah Bapak Presiden, mulai sekarang yang kita bicarakan ini tidak ada lagi impor solar ke depan,” katanya.
Meski begitu, ada catatan penting. Surplus yang dia bicarakan itu khusus untuk solar dengan spesifikasi standar, atau cetane number (CN) 48. Untuk solar dengan kualitas lebih tinggi, CN 51 yang biasa dipakai industri, Indonesia masih harus impor. Volumenya memang tak besar, sekitar 600 ribu kiloliter.
Tapi rencananya, ketergantungan itu juga mau dihapus. “Nanti di semester kedua, saya minta Pertamina untuk membangun agar tidak kita impor,” pungkas Bahlil.
Jadi, targetnya jelas: stop impor solar biasa, dan perlahan kurangi ketergantungan pada solar industri. Tinggal tunggu realisasinya di lapangan.
Artikel Terkait
Pemprov NTB dan ITDC Bahas Penanganan Banjir Terpadu di KEK Mandalika
Deva Mahenra Pulang ke Makassar untuk Antar Nenek ke Peristirahatan Terakhir
Sahur On The Road Bisa Diisi Kegiatan Bermakna, Ini 5 Ide Alternatif
KPK Geledah Rumah Mantan Pj Sekda Pati untuk Perkuat Kasus Pemerasan Bupati