Menteri ESDM Bahlil Lahadalia punya kabar besar soal pasokan solar dalam negeri. Di Balikpapan, Senin lalu, dia menyatakan Indonesia bakal menghentikan impor bahan bakar minyak jenis solar tahun ini. Bahkan, bukan cuma berhenti impor. Menurut perhitungannya, kita malah bakal kebanjiran surplus sekitar 1,4 juta kiloliter.
“Impor solar kita tinggal 5 juta kl, jadi sudah tertutupi. Bahkan, surplus 1,4 juta kl,” tegas Bahlil.
Angka itu muncul dari proyeksi produksi dan konsumsi. Di 2025, konsumsi solar nasional ada di kisaran 38 juta kiloliter. Lima juta kiloliter di antaranya masih mengandalkan pasokan dari luar negeri. Tapi tahun ini, produksi domestik dinilai sudah mampu menutupi celah itu. Bahkan lebih.
Lantas, bagaimana bisa terjadi surplus? Bahlil menyodorkan dua alasan utama.
Pertama, ada kebijakan biodiesel B50 yang akan diterapkan. Ini lanjutan dari B40 tahun lalu. Intinya, komposisi minyak sawit dalam campuran biodiesel dinaikkan jadi 50 persen. Logikanya sederhana: kalau porsi sawit makin besar, kebutuhan solar murni otomatis turun.
“Jika komposisi minyak sawit semakin besar, maka kebutuhan solar bisa semakin ditekan,” jelasnya.
Artikel Terkait
Sri Mulyani Masuk Dewan Direksi Gates Foundation, Bawa Misi Global
Setelah Duka, Joanna Alexandra Sambut Cinta Baru dengan Cincin Pertunangan
Emas Antam Tembus Rp2,6 Juta per Gram, Harga Buyback Ikut Naik
Kia Resmi Transformasi, Siapkan Babak Baru di Indonesia