Menurutnya, kekuatan Pos Indonesia ada pada jaringan fisik yang luar biasa dan kepercayaan publik. “Bagi masyarakat di banyak daerah, Kantorpos itu bukan hanya tempat kirim surat atau paket. Di sana ada fungsi layanan keuangan, layanan sosial, bahkan fungsi negara,” paparnya.
Sinergi ini diharapkan jadi jawaban atas tantangan digital. Jaringan pos yang menjangkau pelosok, dipadukan dengan teknologi perbankan BTN. Nixon melihat peluang besar. Saat ini saja, sudah ada lebih dari 500.000 nasabah e’Batarapos yang dilayani hampir 3.000 outlet pos.
“Jaringan kantor pos saat ini menjangkau sampai ke pelosok wilayah Indonesia yang mungkin tidak tersentuh oleh BTN. Pada saat yang sama, hampir semua warga Indonesia memiliki ponsel smartphone,” jelas Nixon. Kombinasi inilah yang diharapkan bisa mendongkrak inklusi keuangan sekaligus menghimpun dana.
Tak berhenti di tabungan. Dalam gelaran BTN x PosIND Festival 2026, mereka juga meluncurkan layanan cash in dan cash out. Haris menyebut ini sebagai bagian dari skenario besar. “Artinya, nasabah BTN bisa setor dan tarik tunai langsung di Kantorpos. Ini baru sebagian,” katanya.
Jadi, langkah BTN ini terlihat cukup komprehensif. Mulai dari rebranding, penetapan target Rp5 triliun, pemanfaatan jaringan pos yang masif, hingga pengembangan fitur digital. Semuanya bertujuan agar BTN bisa menjadi bank transaksional sehari-hari yang benar-benar merakyat, dari kota besar hingga ke desa terpencil.
Artikel Terkait
Wamen Investasi: Perizinan Berbelit Sebabkan Indonesia Kehilangan Potensi Investasi Rp1.500 Triliun
Mendag Targetkan Transaksi TEI 2026 Capai USD 17,5 Miliar
Imsak Jakarta Jumat 27 Februari 2025 Pukul 04.33 WIB
Gubernur DKI Targetkan Program LPDP Jakarta Dimulai 2027, Sempat Terhambat Pemotongan DBH