Trenggono memberi gambaran yang lebih jelas. “Kami sudah melakukan identifikasi. Tambak terdampak yang rusaknya sangat berat ada sekitar 300an hektare, sisanya didominasi kerusakan ringan hingga berat,” jelasnya.
Tambak-tambak yang hancur itu, baik yang di darat maupun di pesisir, membudidayakan beragam komoditas. Mulai dari udang, bandeng, kakap, kerapu, sampai lele, nila, mas, dan patin. Semua ikut menjadi korban.
Bencana ini bermula dari banjir bandang disertai longsor yang menyapu hampir seluruh Aceh pada November lalu. Kekuatannya luar biasa. Beberapa lokasi tambak bahkan rata dengan tanah, terkubur lumpur tebal yang dibawa arus banjir.
Kini, yang tersisa adalah tumpukan kerugian dan pekerjaan rumah besar untuk pemulihan.
Artikel Terkait
DK PBB Gelar Rapat Darurat, Kutuk Serangan AS-Israel ke Iran
Menag Minta Maaf dan Tegaskan Zakat Tetap Wajib Setelah Pernyataan Picu Salah Paham
Qatar Kecam Serangan Rudal Iran, Sebut Langgar Kedaulatan dan Ancam Stabilitas Kawasan
Menhut Serahkan 833 Hektar Perhutanan Sosial di IKN, Dukung Program Unggulan Prabowo