Trenggono memberi gambaran yang lebih jelas. “Kami sudah melakukan identifikasi. Tambak terdampak yang rusaknya sangat berat ada sekitar 300an hektare, sisanya didominasi kerusakan ringan hingga berat,” jelasnya.
Tambak-tambak yang hancur itu, baik yang di darat maupun di pesisir, membudidayakan beragam komoditas. Mulai dari udang, bandeng, kakap, kerapu, sampai lele, nila, mas, dan patin. Semua ikut menjadi korban.
Bencana ini bermula dari banjir bandang disertai longsor yang menyapu hampir seluruh Aceh pada November lalu. Kekuatannya luar biasa. Beberapa lokasi tambak bahkan rata dengan tanah, terkubur lumpur tebal yang dibawa arus banjir.
Kini, yang tersisa adalah tumpukan kerugian dan pekerjaan rumah besar untuk pemulihan.
Artikel Terkait
Prabowo Resmikan Kilang Balikpapan Senin Ini, Investasi Rp 123 Triliun untuk Hentikan Impor BBM
Dari Truk Dakar hingga Motor Listrik: Wajah Otomotif yang Terus Berubah
Harga Pertamax dan Dexlite Turun, Pertalite Tetap Bertahan
Di Balik Pesona Danau Batur, Ancaman Racun Diam-Diam Mengintai