Mudik Lebaran Dimulai Lebih Awal, Warga Hindari Tiket Mahal dan Kerumunan

- Minggu, 01 Maret 2026 | 06:55 WIB
Mudik Lebaran Dimulai Lebih Awal, Warga Hindari Tiket Mahal dan Kerumunan

Suasana Ramadan baru setengah jalan, tapi geliat mudik sudah mulai terasa. Di Stasiun Gambir, Jakarta, beberapa orang terlihat membawa koper dan tas besar. Mereka ini adalah para pemudik yang memilih berangkat lebih awal, jauh sebelum puncak arus balik nanti. Alasannya beragam, tapi yang paling utama: menghindari harga tiket yang melambung tinggi dan kerumitan di hari-hari terakhir.

Rina, 27 tahun, adalah salah satunya. Perempuan yang bekerja di Jakarta ini sengaja mengambil cuti di awal puasa. Tujuannya ke Semarang.

"Iya, saya sengaja ambil cuti di awal Ramadan. Soalnya kalau sudah mendekati Lebaran biasanya tiket susah dan mahal," ujarnya, Sabtu (28/2/2026).

Selain itu, ada kerinduan yang ia bawa pulang. Sudah empat tahun ia menjalani puasa di ibu kota, jauh dari keluarga. Kini, ia ingin merasakan lagi suasana sahur dan buka bersama orang-orang tercinta.

"Yang paling saya kangen itu buka puasa bareng keluarga. Biasanya ibu sudah masak macam-macam dari sore. Kalau di Jakarta seringnya buka sendiri di kos," katanya dengan senyum.

Suasana itu, menurutnya, benar-benar tak tergantikan.

Cerita serupa datang dari Wiwid. Pria 34 tahun asal Yogyakarta ini memutuskan pulang di awal Ramadan setelah lima tahun lamanya terhalang kesibukan kerja. Keputusannya sudah bulat sejak tahun lalu.

"Kayaknya tahun ini pulang pas puasa saja. Sudah 5 tahun nggak pulang karena kerjaan. Saya juga mau nemenin orang tua," tuturnya.

Bagi Wiwid dan Rina, mudik awal bukan cuma soal strategi menghindari kemacetan. Lebih dari itu, ini tentang merebut momen kebersamaan yang selama ini tertunda. Tentang pulang sebelum semua orang ramai-ramai pulang, untuk hal yang paling sederhana: berbuka puasa di rumah.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar