Cahaya Gerobak Pak Warsito, Setia Temani Malam Purwokerto

- Senin, 12 Januari 2026 | 02:06 WIB
Cahaya Gerobak Pak Warsito, Setia Temani Malam Purwokerto

Lampu etalase toko roti di ruas jalan Purwokerto itu baru saja dipadamkan. Tapi, bukan berarti aktivitas di sana berhenti total. Begitu toko tutup, seorang pria tua dengan semangat yang masih menyala mendorong gerobak kecilnya ke depan. Di situlah, babak malamnya dimulai.

Dialah Pak Warsito, 48 tahun. Sudah puluhan tahun dia menjadi bagian dari Roti Go, toko legendaris yang umurnya sudah lebih dari seabad. Toko itu sendiri sudah seperti denyut nadi lama kota Purwokerto.

“Saya mulai kerja di sini Januari 1999, jadi sudah 26 tahun lebih,” ujarnya.

“Dulu, saya ambil alih setelah bapak saya pensiun.”

Kalau siang hari, dari jam delapan pagi sampai lima sore, tokonya ramai oleh pembeli. Tapi begitu pintu terkunci dan keramaian sirna, Pak Warsito justru bersiap untuk babak berikutnya. Dia kembali di malam hari, mengatur gerobak sederhananya, untuk berjualan secara mandiri.

Gerobak malam ini bukan usaha sampingan yang terpisah. Ini lebih seperti cara Pak Warsito menari mengikuti irama kota. Dia tetap setia menyediakan roti bagi mereka yang pulang kerja larut atau sekadar butuh camilan tengah malam. Lampu kecil di gerobaknya menyala redup, menemani jalanan yang perlahan menjadi lengang.

“Kalau toko tutup, ya saya lanjut sendiri di luar pakai gerobak ini,” katanya.

“Biasanya, orang-orang cari yang masih buka buat teman ngemil atau nongkrong.”

Bagi Pak Warsito, malam bukan cuma peralihan waktu. Ini adalah ritual yang sudah mendarah daging, bagian dari rutinitas panjang yang dijalani tanpa keluh. Gerobak itu dia jaga dari jam tujuh malam sampai pagi buta, seringkali sampai toko buka kembali. Dalam rentang waktu yang panjang itu, dia menunggu, melayani, sementara kota pelan-pelan tertidur dan bangun lagi.

Bertahun-tahun jaga gerobak, dia bukan cuma hafal wajah pelanggan. Dia juga tahu cerita hidup mereka. Banyak yang datang berulang, sampai hubungannya nggak lagi sekadar transaksi jual-beli.

“Sudah kayak saudara sendiri,” ucapnya singkat, sambil tersenyum.

Obrolan ringan dan sapaan akrab selalu menghangatkan transaksi sederhana di tepi jalan itu.

Namun begitu, bekerja sepanjang malam jelas nggak gampang. Lelah dan kantuk adalah musuh tetap yang sering menyerang tiba-tiba. Pernah suatu kali, dia ketiduran sebentar dan bangun-bangun, ponselnya sudah raib. Ada juga momen menerima uang palsu, yang mau tak mau harus ditanggungnya sendiri.

Tapi semua itu tak pernah jadi alasan baginya untuk berhenti. Bekerja, baginya, adalah cara menjaga roda kehidupan agar terus berputar. Dari gerobak malam itulah dia menghidupi keluarga.

Dari puluhan tahun dijalani, Pak Warsito bilang banyak belajar tentang sabar dan ikhlas. Dia paham, nggak semua hari mendatangkan cuan. Kadang roti laris, kadang sepi. Bahkan pernah ada yang ambil roti tanpa bayar.

“Namanya juga rezeki,” ujarnya dengan nada tenang.

Dia memilih untuk ikhlas, menerima setiap hari sebagai pelajaran baru.

Di bawah cahaya lampu gerobaknya yang temaram, Pak Warsito terus menjemput rezeki di ujung hari. Harapannya sederhana: tetap konsisten, bertanggung jawab, dan jujur dalam bekerja. Selama masih kuat mendorong gerobak dan roti masih bisa dia jual, malam Purwokerto akan selalu punya satu cahaya kecil yang setia menemani.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar