Lampu etalase toko roti di ruas jalan Purwokerto itu baru saja dipadamkan. Tapi, bukan berarti aktivitas di sana berhenti total. Begitu toko tutup, seorang pria tua dengan semangat yang masih menyala mendorong gerobak kecilnya ke depan. Di situlah, babak malamnya dimulai.
Dialah Pak Warsito, 48 tahun. Sudah puluhan tahun dia menjadi bagian dari Roti Go, toko legendaris yang umurnya sudah lebih dari seabad. Toko itu sendiri sudah seperti denyut nadi lama kota Purwokerto.
“Saya mulai kerja di sini Januari 1999, jadi sudah 26 tahun lebih,” ujarnya.
“Dulu, saya ambil alih setelah bapak saya pensiun.”
Kalau siang hari, dari jam delapan pagi sampai lima sore, tokonya ramai oleh pembeli. Tapi begitu pintu terkunci dan keramaian sirna, Pak Warsito justru bersiap untuk babak berikutnya. Dia kembali di malam hari, mengatur gerobak sederhananya, untuk berjualan secara mandiri.
Gerobak malam ini bukan usaha sampingan yang terpisah. Ini lebih seperti cara Pak Warsito menari mengikuti irama kota. Dia tetap setia menyediakan roti bagi mereka yang pulang kerja larut atau sekadar butuh camilan tengah malam. Lampu kecil di gerobaknya menyala redup, menemani jalanan yang perlahan menjadi lengang.
“Kalau toko tutup, ya saya lanjut sendiri di luar pakai gerobak ini,” katanya.
“Biasanya, orang-orang cari yang masih buka buat teman ngemil atau nongkrong.”
Bagi Pak Warsito, malam bukan cuma peralihan waktu. Ini adalah ritual yang sudah mendarah daging, bagian dari rutinitas panjang yang dijalani tanpa keluh. Gerobak itu dia jaga dari jam tujuh malam sampai pagi buta, seringkali sampai toko buka kembali. Dalam rentang waktu yang panjang itu, dia menunggu, melayani, sementara kota pelan-pelan tertidur dan bangun lagi.
Artikel Terkait
Di Balik Pesona Danau Batur, Ancaman Racun Diam-Diam Mengintai
Iran Ancam Balas AS dan Israel di Tengah Kerusuhan yang Tak Kunjung Padam
Prabowo Pimpin Rapat Malam, Pacu Industri Tekstil hingga Semikonduktor
VinFast Serobot Peringkat Lima, Dominasi Jepang di Pasar Mobil RI Mulai Tergoyahkan?