Bertahun-tahun jaga gerobak, dia bukan cuma hafal wajah pelanggan. Dia juga tahu cerita hidup mereka. Banyak yang datang berulang, sampai hubungannya nggak lagi sekadar transaksi jual-beli.
“Sudah kayak saudara sendiri,” ucapnya singkat, sambil tersenyum.
Obrolan ringan dan sapaan akrab selalu menghangatkan transaksi sederhana di tepi jalan itu.
Namun begitu, bekerja sepanjang malam jelas nggak gampang. Lelah dan kantuk adalah musuh tetap yang sering menyerang tiba-tiba. Pernah suatu kali, dia ketiduran sebentar dan bangun-bangun, ponselnya sudah raib. Ada juga momen menerima uang palsu, yang mau tak mau harus ditanggungnya sendiri.
Tapi semua itu tak pernah jadi alasan baginya untuk berhenti. Bekerja, baginya, adalah cara menjaga roda kehidupan agar terus berputar. Dari gerobak malam itulah dia menghidupi keluarga.
Dari puluhan tahun dijalani, Pak Warsito bilang banyak belajar tentang sabar dan ikhlas. Dia paham, nggak semua hari mendatangkan cuan. Kadang roti laris, kadang sepi. Bahkan pernah ada yang ambil roti tanpa bayar.
“Namanya juga rezeki,” ujarnya dengan nada tenang.
Dia memilih untuk ikhlas, menerima setiap hari sebagai pelajaran baru.
Di bawah cahaya lampu gerobaknya yang temaram, Pak Warsito terus menjemput rezeki di ujung hari. Harapannya sederhana: tetap konsisten, bertanggung jawab, dan jujur dalam bekerja. Selama masih kuat mendorong gerobak dan roti masih bisa dia jual, malam Purwokerto akan selalu punya satu cahaya kecil yang setia menemani.
Artikel Terkait
Bernardo Tavares Kagumi Atmosfer Harmonis Suporter Meski Persebaya Dibantai Persija
Pemerintah Siapkan Layanan Haji Inklusif untuk Lansia dan Disabilitas pada 2026
PSSI Godok Format Baru Piala Presiden 2026, Libatkan Seluruh Pemerintah Daerah
Geopolitik Global Paksa New Found Glory dan The Story So Far Batal Tampil di Hammersonic 2026