Latar belakang penghuninya beragam. Gelombang imigrasi sejak 1930-an datang dari mana-mana: Kalianda, Banten, Bugis, Batak, hingga Nusa Tenggara. Kehidupan sosial yang heterogen ini membentuk percampuran budaya Lampung dan Jawa Serang, sekaligus mencerminkan kemampuan adaptasi yang luar biasa.
Mata pencaharian utamanya bertani kelapa, lada, kopi dan menangkap ikan. Mereka memanfaatkan kesuburan tanah yang merupakan warisan aktivitas vulkanik masa lalu.
Kekayaan geologinya menjadikan Sebesi ruang kelas yang menarik. Wisatawan bisa menyusuri pantai, melihat stratifikasi batuan, mendaki ke puncak, atau mengamati Anak Krakatau dari menara pandang. Ada hamparan kebun kelapa dan lada yang bisa jadi sarana belajar agrogeologi. Di sini, proses pemulihan ekosistem pasca-bencana bisa dipelajari langsung, melihat bagaimana geologi, hayati, dan manusia saling terkait.
Manusia di Bawah Gunung: Ketangguhan dan Kearifan
Penduduk Sebesi punya pengalaman panjang menghadapi amuk alam. Setelah Krakatau runtuh, masyarakat sekitar mendesak agar Sebesi dibuka untuk pertanian. Akhirnya, di awal abad ke-20, pulau ini dioperasikan sebagai perkebunan kelapa oleh pedagang lokal.
Para pekerja yang didatangkan dari Banten dan daerah lain memilih menetap. Mereka membawa keluarga, membentuk komunitas permanen. Gelombang migrasi berikutnya terjadi di masa pendudukan Jepang dan krisis ekonomi 1940-an. Keterbukaan lahan subur terus menarik kedatangan suku Bugis, Batak, dan lainnya, memperkaya keberagaman.
Kini, hampir 2.800 jiwa hidup rukun meski beda suku dan agama. Jejaring sosial mereka terbangun lewat musyawarah, gotong royong, dan berbagi pengetahuan tentang tanda-tanda alam. Kesehariannya diisi bertani, melaut, dan kadang menyambut wisatawan.
Sikap mereka terhadap bencana kompleks. Saat tsunami 2018, sebagian memilih bertahan. Alasannya beragam, dari menjaga harta benda hingga keyakinan bahwa letusan adalah bagian dari siklus alam yang harus diterima. Sikap ini menunjukkan kedalaman hubungan spiritual mereka dengan tanahnya, sekaligus menegaskan betapa pentingnya edukasi kebencanaan yang menyeluruh dan berkelanjutan.
Masa Depan: Bukan Sekadar Persinggahan
Potensi Sebesi sebagai destinasi geowisata edukatif sangat besar. Ia bukan cuma titik pemberhentian sebelum ke Anak Krakatau, tapi bisa jadi pusat pembelajaran geologi dan budaya sendiri. Aktivitas seperti trekking, snorkeling, atau pengamatan satwa bisa dikemas dengan cerita dari pemandu lokal tentang sejarah letusan dan kearifan mengelola alam.
Kunci pengembangannya ada di tangan warga. Mereka harus jadi aktor utama. Pelatihan pemandu, penguatan literasi digital, dan promosi yang tepat bisa meningkatkan nilai ekonomi tanpa merusak lingkungan. Tapi semua itu harus diiringi strategi mitigasi yang matang jalur evakuasi yang jelas, edukasi bagi pengunjung, dan pengaturan jumlah wisatawan agar tidak membebani daya dukung pulau kecil yang hidup di bawah bayang gunung api ini.
Artikel Terkait
FCC Beri Izin, Armada Satelit Starlink Elon Musk Bakal Tembus 15.000 Unit
Nobar Berujung Ricuh: Petasan Picu Bentrok Suporter di Depok
Korban Jiwa Membengkak, Iran Hadapi Gelombang Kerusuhan Terbesar
Ketegangan Iran-AS Memanas, Ketua Parlemen Ancam Serang Israel dan Pangkalan Amerika