Ucapan itu sekaligus menjadi sindiran halus sekaligus penekanan. Intinya, persoalan utama di lapangan bukan lagi soal ada atau tidaknya dana. Pemerintah pusat, menurut Purbaya, sudah mengalirkan dana yang cukup signifikan. Untuk Aceh saja, di bulan Januari sudah dikirim dana mencapai Rp1,279 triliun. “Jadi mereka cukup cash untuk geraklah kalau mau,” katanya.
Namun begitu, dia tak menampik bahwa realisasi di lapangan masih tersendat. Kendalanya bukan pada uang tunai, melainkan pada hal-hal teknis seperti administrasi yang berbelit. Itu yang sering memperlambat penyerapan anggaran.
“Jadi sekarang setiap bulan atau setiap awal bulan kita kirim ke daerahnya langsung tanpa permohonan,” jelas Purbaya, mencoba memberi gambaran tentang upaya penyederhanaan. “Kita kirim sesuai dengan data setahun sebelumnya, dari situ kita prediksi. Jadi mereka enggak akan ada kekurangan dana untuk itu.”
Di sisi lain, pesannya kepada pemerintah daerah terdampak bencana cukup jelas: jangan ragu. Anggaran yang sudah ditransfer itu memang untuk dipakai, untuk segera meringankan beban masyarakat. Dalam bencana, waktu adalah segalanya.
“Jadi dana bukan kendala,” tutupnya. “Anda pakai saja.”
Pernyataan itu menggantung di udara. Sebuah ajakan sekaligus tantangan, agar bantuan yang sudah ada tak hanya menjadi angka di laporan, tapi benar-benar menyentuh yang membutuhkan.
Artikel Terkait
Indonesia dan China Perkuat Kolaborasi, Nilai Perdagangan Tembus Rp2.100 Triliun
Setelah Mandek 12 Tahun, Proyek RS Sumber Waras Akhirnya Dapat Lampu Hijau
Kepala KPP Ditangkap KPK, Harta Rp4,8 Miliar Terkuak
Bobotoh Kepincut Kapten Persija, Rizky Ridho Jadi Rebutan Jelang Duel Klasik