Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, punya catatan penting soal penanganan kawasan kumuh. Selama ini, kata dia, upaya perbaikan seringkali cuma menyentuh kulitnya saja. Fisik bangunan ditata, lingkungan dibenahi. Tapi lihatlah beberapa tahun kemudian, kondisi itu bisa kembali seperti semula. Kenapa? Menurut Ara sapaan akrabnya akar masalahnya sering terletak pada ekonomi warga yang tak kunjung membaik.
"Karena ekonomi keluarganya tidak diperkuat sehingga penanganan ke depan harus terpadu," tegas Ara dalam keterangannya, Rabu (25/2/2026).
Dia menjelaskan lebih lanjut, "Rumahnya diperbaiki, ekonominya juga diberdayakan agar masyarakat bisa bertahan dan berkembang."
Nah, untuk mengatasi hal ini, Kementerian PKP bakal mengubah pendekatan. Mereka akan coba gabungkan program penataan kawasan kumuh, misalnya di Jambi dan Sulawesi Tengah, dengan cara yang lebih menyeluruh. Intinya, nggak lagi parsial.
Pemerintah daerah diminta proaktif mengusulkan kawasan yang dianggap layak untuk ditangani. Nantinya, intervensi fisik lewat program seperti Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) akan digandeng dengan upaya pemberdayaan ekonomi. Untuk yang terakhir ini, bakal ada dukungan dari PT PNM dan PT Sarana Multigriya Finansial (SMF).
Memang, selama ini pekerjaan rumah itu kerap terbengkalai. Fokusnya cuma pada tembok dan atap, sementara kemampuan warga untuk 'menghidupi' rumah yang sudah diperbaiki itu luput dari perhatian. Alhasil, program jadi kurang berkelanjutan.
Artikel Terkait
KAI Siap Dukung Transisi ke B50, Semua Lokomotif Sudah Terbiasa B40
TNI AL Perluas Kerja Sama Pendidikan dengan AS, Kirim Kadet ke US Coast Guard
ATR/BPN Terapkan WFH untuk ASN, Jamin Layanan Pertanahan Tetap Optimal
Canva Akuisisi Dua Startup untuk Perkuat AI dan Otomatisasi Pemasaran