Di tengah dinamika global yang tak menentu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membeberkan laporan capaian APBN 2025. Intinya? Ekonomi kita masih tangguh. Dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Kamis lalu, Purbaya menyampaikan optimisme itu dengan data di tangan.
“Pertumbuhan ekonomi 5,2 persen sepanjang 2025 dengan asumsi kuartal IV-2025 tumbuh 5,45 persen,” ujarnya.
Angka itu sesuai target. Performa kuat di akhir tahun jadi pendorong utamanya. Namun begitu, kalau kita lihat lebih detail, gambaran makro-ekonominya ternyata berwarna-warni. Tekanan dari luar negeri bikin beberapa indikator bergerak tak sesuai harapan awal.
Inflasi Desember 2025, contohnya, nyaris sentuh 2,92 persen. Padahal targetnya cuma 2,5 persen. Rupiah juga masih tertekan. Nilai tukarnya ada di Rp16.475 per dolar AS, cukup jauh dari proyeksi awal di level Rp16.000.
Tapi ada juga kabar baik. Yield Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun justru lebih bagus dari perkiraan, bertengger di 6,71 persen. Targetnya kan 7 persen. Harga minyak mentah Indonesia (ICP) malah jadi kejutan positif. Realisasinya cuma USD67,95 per barel, jauh melorot dari asumsi USD82. Sayangnya, ini tak diimbangi kinerja lifting migas yang masih jeblok. Lifting minyak mentah cuma 577,6 ribu barel per hari, sementara gas 965,5 ribu barel setara minyak per hari. Keduanya di bawah target.
Artikel Terkait
BSI Proyeksikan 83% Jamaah Haji Reguler 2026 adalah Nasabah Tabungan Haji
Tiang Listrik Keropos Ambruk di Mangga Besar, Lalu Lintas Sempat Lumpuh
Negosiasi AS-Iran Buntu, Trump Tegaskan Iran Tak Boleh Miliki Senjata Nuklir
Tiang Listrik Roboh di Mangga Besar Akibat Beban Kabel Optik, Lalu Lintas Tersendat