TNI AL Bongkar Muat Alat Berat di Lhokseumawe untuk Percepat Rehabilitasi Pascabencana

- Kamis, 08 Januari 2026 | 13:10 WIB
TNI AL Bongkar Muat Alat Berat di Lhokseumawe untuk Percepat Rehabilitasi Pascabencana

Di Dermaga Krueng Geukeuh, Lhokseumawe, Kamis lalu, aktivitas bongkar muat terlihat cukup sibuk. KRI Banda Aceh (BAC-593) bersandar, dan satu per satu material alat berat mulai diturunkan ke darat. Operasi ini bukan latihan militer biasa, melainkan bagian dari upaya nyata TNI AL mendukung pemulihan pascabencana di wilayah Sumatra.

Menurut sejumlah saksi, debarkasi yang dipimpin Letkol Laut (P) Yanuar Rizky Widjaya itu berjalan lancar. Materialnya sendiri tak cuma alat berat, tapi juga logistik dan bahan-bahan lain yang sangat dibutuhkan untuk kondisi darurat. Intinya, semua dikerahkan untuk mempercepat rehabilitasi infrastruktur yang rusak.

Dalam keterangan tertulisnya, Dispenal TNI AL menegaskan hal ini.

"Pengiriman material adalah wujud nyata kehadiran kami untuk membantu masyarakat terdampak. Harapannya, bantuan ini bisa segera dimanfaatkan agar pemulihan di lapangan berjalan lebih cepat,"

Nah, upaya seperti ini sebenarnya masuk dalam kerangka Operasi Militer Selain Perang (OMSP). TNI AL pun berjanji bakal terus bersinergi dengan pemda dan berbagai pihak terkait. Sinergi itu dianggap kunci agar bantuan kemanusiaan benar-benar tepat sasaran.

Di sisi lain, debarkasi di Krueng Geukeuh ini juga punya makna strategis. Ia merupakan implementasi langsung dari program yang digaungkan KSAL Laksamana Muhammad Ali, yang ingin memperkuat peran TNI AL dalam misi-misi kemanusiaan. Dengan titik bongkar muat yang tepat, distribusi bantuan ke daerah terdampak diharapkan jadi lebih optimal.

Pada akhirnya, yang paling penting adalah manfaatnya langsung terasa oleh masyarakat. Ketika alat berat dan logistik itu sampai, proses membangun kembali daerah yang luluh lantak pun bisa segera dimulai.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar