Namun begitu, ada satu hal yang mendapat perhatian serius dari sang Dekan: maraknya penggunaan fitur Buy Now Pay Later atau paylater. Prof Rudi menegaskan, jangan salah sangka. Paylater pada dasarnya adalah utang jangka pendek yang berisiko. Bunga atau dendanya bisa membebani keuangan di masa depan.
Ia pun berpesan keras, jangan sampai fasilitas utang ini dipakai cuma untuk sekadar gengsi atau ikut-ikutan tren.
"Penting bagi masyarakat untuk menerapkan mindset: Jika belum memiliki pendapatan tetap, maka prinsipnya sederhana: jangan membiayai gaya hidup dengan utang,"
tegasnya.
Di akhir, Prof Rudi mengingatkan kembali tentang esensi liburan yang sebenarnya. Liburan itu intinya untuk mengisi ulang energi, bukan soal pergi ke tempat yang jauh atau mahal. Dengan anggaran terbatas pun, liburan berkualitas tetap bisa didapat. Misalnya dengan menekuni hobi, berkumpul bersama keluarga, atau melakukan kegiatan yang bisa meningkatkan kapasitas diri.
Kesiapan finansial untuk menyambut semester baru juga krusial. Jangan sampai kantong kering pasca-liburan malah mengganggu fokus belajar atau bekerja.
"Pada akhirnya, kebebasan finansial bukan soal seberapa besar uang yang dimiliki, melainkan seberapa bijak kita menggunakannya,"
pungkas Prof Rudi.
Artikel Terkait
Arus Mudik Lebaran 2026 Capai 3,5 Juta Kendaraan, Ruas Solo-Yogya Tembus 92%
KPK Catat 94.542 Penyelenggara Negara Belum Lapor LHKPN Jelang Batas Akhir
Arus Balik Lebaran 2026 Masih Padat, Kedatangan di Stasiun Jakarta Capai 52.896 Penumpang
KPK: 94 Ribu Pejabat Belum Lapor LHKPN, Batas Akhir 31 Maret 2026