Dekan FEB Unair Ingatkan Bahaya FOMO dan Paylater Saat Liburan Akhir Tahun

- Minggu, 28 Desember 2025 | 13:30 WIB
Dekan FEB Unair Ingatkan Bahaya FOMO dan Paylater Saat Liburan Akhir Tahun

Liburan akhir tahun, momen yang ditunggu-tunggu itu akhirnya tiba. Bagi banyak orang, ini adalah angin segar untuk menyegarkan pikiran yang penat. Tapi hati-hati, euforia ini punya sisi lain yang licin. Gempuran diskon di mana-mana, ditambah dengan suguhan foto-foto liburan seru di media sosial, seringkali bikin kita kalap. Perilaku konsumtif dan rasa takut ketinggalan (FOMO) pun mengintai.

Menanggapi hal ini, Prof Dr Rudi Purwono SE MSE, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, angkat bicara. Ia membagikan pandangan dan beberapa kiat praktis agar kita bisa menikmati liburan tanpa harus merusak kesehatan keuangan.

Menurut Prof Rudi, boros saat liburan itu akar masalahnya seringkali ada di psikologi, bukan cuma karena kurangnya pengetahuan soal uang. Diskon besar-besaran, misalnya, bisa menciptakan "ilusi berhemat". Kita merasa sedang berhemat, padahal justru terdorong untuk beli barang secara spontan yang manfaatnya belum tentu jelas.

Tekanan dari media sosial juga bikin situasi makin runyam. Keinginan untuk memamerkan kebahagiaan liburan kerap membuat keputusan belanja jadi tidak rasional sama sekali.

"Pengeluaran lebih didorong oleh keinginan sesaat dibandingkan pertimbangan rasional terutama berkaitan dengan kebutuhan,"

jelas Prof Rudi pada Minggu, 28 Desember.

Lalu, bagaimana caranya supaya tidak krisis keuangan setelah liburan usai? Kuncinya ada pada penganggaran yang disiplin. Prof Rudi menyarankan sebuah rumus sederhana untuk mengelola uang saku.

"Salah satu pendekatan sederhana adalah mengalokasikan maksimal 20-30 persen uang saku bulanan untuk kebutuhan hiburan dan leisure selama liburan,"

ungkapnya. Sisa persentasenya harus tetap dipakai untuk kebutuhan rutin dan, yang tak kalah penting, ditabung. Batasan ini berfungsi sebagai "pagar psikologis" yang melindungi kita dari bujukan diskon fantastis.

Namun begitu, ada satu hal yang mendapat perhatian serius dari sang Dekan: maraknya penggunaan fitur Buy Now Pay Later atau paylater. Prof Rudi menegaskan, jangan salah sangka. Paylater pada dasarnya adalah utang jangka pendek yang berisiko. Bunga atau dendanya bisa membebani keuangan di masa depan.

Ia pun berpesan keras, jangan sampai fasilitas utang ini dipakai cuma untuk sekadar gengsi atau ikut-ikutan tren.

"Penting bagi masyarakat untuk menerapkan mindset: Jika belum memiliki pendapatan tetap, maka prinsipnya sederhana: jangan membiayai gaya hidup dengan utang,"

tegasnya.

Di akhir, Prof Rudi mengingatkan kembali tentang esensi liburan yang sebenarnya. Liburan itu intinya untuk mengisi ulang energi, bukan soal pergi ke tempat yang jauh atau mahal. Dengan anggaran terbatas pun, liburan berkualitas tetap bisa didapat. Misalnya dengan menekuni hobi, berkumpul bersama keluarga, atau melakukan kegiatan yang bisa meningkatkan kapasitas diri.

Kesiapan finansial untuk menyambut semester baru juga krusial. Jangan sampai kantong kering pasca-liburan malah mengganggu fokus belajar atau bekerja.

"Pada akhirnya, kebebasan finansial bukan soal seberapa besar uang yang dimiliki, melainkan seberapa bijak kita menggunakannya,"

pungkas Prof Rudi.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar