Jakarta, memasuki Syawal 1447 Hijriah atau sekitar awal April 2026, umat Muslim di Indonesia punya satu amalan sunnah yang istimewa untuk dijalani: puasa Ayyamul Bidh. Ibadah ini, seperti dikutip dari NU Online, memang punya kedudukan khusus. Namanya sendiri punya makna yang indah, "hari-hari putih", yang merujuk pada malam-malam terang benderang saat bulan purnama menyinari pertengahan bulan kalender Hijriah.
Pelaksanaannya rutin, setiap bulan: tanggal 13, 14, dan 15. Tapi jangan salah, meski cuma tiga hari sebulan, pahalanya luar biasa besar. Konon, siapa yang menunaikannya secara konsisten, maka ganjarannya setara dengan berpuasa setahun penuh. Konsep ini bersumber dari sebuah hadits.
"Siapa saja yang berpuasa tiga hari dari setiap bulan, maka puasa tersebut seperti puasa sepanjang tahun. Kemudian Allah menurunkan ayat dalam kitabnya yang mulia karena membenarkan hal tersebut: 'Siapa saja yang datang dengan kebaikan maka baginya pahala 10 kali lipatnya' [QS al-An'am: 160]. Satu hari sama dengan 10 hari." (HR Ibnu Majah dan at-Tirmidzi)
Lalu, kapan tepatnya kita melaksanakannya di bulan April 2026 nanti? Berdasarkan penanggalan dari Kemenag, inilah rinciannya.
Jadwal Puasa Ayyamul Bidh April 2026
| Tanggal Hijriah | Tanggal Masehi |
|---|---|
| 13 Syawal 1447 H | 2 April 2026 |
| 14 Syawal 1447 H | 3 April 2026 |
| 15 Syawal 1447 H | 4 April 2026 |
Bagaimana Hukumnya?
Soal hukum, para ulama sepakat ini adalah sunnah muakkad. Artinya, sangat dianjurkan. Dasarnya kuat, dari beberapa riwayat. Salah satunya dari Ibnu Abbas.
"Rasulullah saw sering tidak makan (berpuasa) pada hari-hari yang malamnya cerah baik di rumah maupun dalam bepergian." (HR an-Nasa'i dengan sanad hasan)
Tak cuma itu. Ada juga perintah langsung yang dicatat dalam riwayat lain, dari Qatadah bin Milhan.
"Rasulullah saw telah memerintah kami untuk berpuasa pada hari-hari yang malamnya cerah, yaitu tanggal 13, 14, dan 15." (HR Abu Dawud)
Niat dan Pesan Penting
Untuk niatnya, melafalkan dalam hati saja sudah cukup. Bunyinya begini:
Nawaitu shauma ayyamil bidl lillahi ta'ala.
Artinya: "Saya niat puasa Ayyamul Bidh, karena Allah ta'ala."
Namun begitu, ada satu hal yang kerap dilupakan. Puasa bukan cuma menahan lapar dan dahaga. Esensinya lebih dalam dari itu. Rasulullah pernah mengingatkan, banyak orang yang berpuasa tapi hasilnya nihil. Cuma dapat capek saja.
"Banyak orang yang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan kehausan." (HR an-Nasa'i dan Ibnu Majah)
Maka, selain menahan diri dari makan minum, menjaga lisan dan perilaku dari hal-hal buruk seperti ghibah atau dusta adalah kunci. Biar puasa kita nggak sekadar ritual, tapi betul-betul bermakna.
Artikel Terkait
Pemuda 19 Tahun Tersangka Pembunuh Siswi SD di Makassar Coba Kelabui Polisi dengan Pura-pura Ribut saat Olah TKP
GEMURA Kritik Perdebatan Bantuan Kurban Presiden, Minta Publik Jaga Etika Demokrasi
Prabowo ke Macron: Stabilitas Timur Tengah Kunci Energi Global, Dukung Solusi Dua Negara untuk Palestina
Prabowo Disambut Kenegaraan di Élysée, Penuhi Undangan Balasan untuk Macron