Sambhasana Shristi: Ketika Orientasi Kampus Tak Sekadar Perkenalan

- Jumat, 19 Desember 2025 | 03:06 WIB
Sambhasana Shristi: Ketika Orientasi Kampus Tak Sekadar Perkenalan
Catatan dari Masa Orientasi

Catatan dari Masa Orientasi

Bagi kebanyakan orang, jadi mahasiswa baru itu identik dengan jaket almamater dan keliling kampus. Tapi buat saya, momen orientasi justru jadi pintu pertama untuk belajar hal yang lebih dalam: adaptasi, kerja sama, dan tumbuh bersama orang-orang yang tadinya asing banget. Rasanya, hampir semua mahasiswa baru pernah merasakan hal serupa.

Saya dari Ilmu Komunikasi Unpad, angkatan 2025, di kampus PSDKU Pangandaran. Perjalanan ini saya mulai dengan perasaan yang campur aduk, antara semangat dan was-was. Program orientasi kampus memang dirancang untuk menyiapkan kami menghadapi perkuliahan. Tapi yang nggak disangka, acara itu juga membentuk pola interaksi sosial yang ternyata jadi bekal emosional berharga.

Di pertemuan pertama, kami dibagi dalam satu tim berisi sembilan orang. Latar belakang dan karakternya beragam semua. Akhirnya, kami sepakat memberi nama “Sambhasana Shristi” – kurang lebih artinya diskusi tentang alam. Nama itu bukan cuma pajangan. Itu harapan, agar setiap proses yang kami jalani bisa memberi dampak dan makna yang nyata.

Selama sekitar dua bulan, seabrek tugas menanti. Mulai dari bikin website, nulis esai, produksi video, menyusun proposal, sampai mengelola kampanye media sosial. Beban itu terasa berat, apalagi ini kan awal dari fase hidup yang benar-benar baru. Tapi justru di situlah pembelajaran sesungguhnya dimulai. Bukan cuma soal akademik, tapi lebih tentang memahami manusia.

Kami pelan-pelan belajar membagi peran. Menyusun strategi. Dan yang paling penting, saling menopang saat ada yang mulai kelelahan. Jujur, nggak selalu mulus. Seringkali ide mentok, energi drop, dan revisi yang tiada henti bikin frustrasi. Tapi canda-canda receh di sela diskusi malah jadi penyelamat. Mengingatkan bahwa kami nggak berjuang sendirian.

Dari serangkaian proses itu, saya akhirnya sadar. Orientasi kampus ini bukan cuma formalitas atau rutinitas belaka. Ia adalah ruang di mana karakter kami ditempa – soal kepedulian, keteguhan, dan keyakinan bahwa kerja bersama bisa mengatasi keterbatasan masing-masing individu.

Kami masih punya banyak kekurangan, tentu saja.

Tapi perjalanan ini sudah mengubah cara pandang saya terhadap perkuliahan dan kerja tim. Saya bersyukur bisa bertemu dan berkolaborasi dengan orang-orang yang punya caranya sendiri. Mereka mengajarkan arti bertahan, dan sekaligus bertumbuh.

Acara orientasi mungkin sudah berakhir. Namun nilai-nilai yang kami petik akan terus dibawa. Dengan dukungan satu sama lain, plus bimbingan dari mereka yang membersamai di balik layar, saya yakin langkah-langkah ke depan akan terasa lebih mungkin untuk dijalani. Meski pasti tetap ada tantangannya.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar