Angka yang muncul dari bencana di Sumatera sungguh memilukan. Hingga Minggu sore kemarin, catatan Kementerian PKP menunjukkan hampir 140 ribu rumah warga porak-poranda diterjang banjir dan longsor. Wilayah terdampak mencakup Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, dengan kerusakan terjadi sejak awal Desember.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, membeberkan datanya dalam sebuah konferensi pers di Jakarta, Senin siang.
"Jadi total, yang (rusak) ringan, sedang, rusak berat, dan hanyut, total 139.485. Data per hari Minggu, 14 Desember 2005, jam 5.00 sore,"
Ia menjelaskan, angka sebanyak itu mencakup segala tingkat kerusakan. Mulai dari rumah yang retak-retak, ambruk sebagian, hingga yang paling parah: hanyut terbawa arus atau tertimbun material longsor.
Dari tiga provinsi, Aceh menanggung beban terberat. Di sana, lebih dari 100 ribu unit rumah terdampak. Rinciannya, 38.533 rumah rusak ringan, 22.204 rusak sedang, dan 35.517 lainnya rusak berat. Belum lagi 4.295 rumah yang sama sekali hanyut dari fondasinya.
Kondisi di Sumatera Utara tak kalah suram. Sekitar 29.766 rumah warga dilaporkan rusak. Sementara itu, di Sumatera Barat, angka kerusakan mencapai 9.150 unit. Kerugian materialnya jelas luar biasa.
Namun begitu, Maruarar menegaskan bahwa fase penanganan saat ini masih tanggap darurat. Rekonstruksi dan rehabilitasi yang menyeluruh belum dimulai.
"Walaupun ini belum sampai ke tahapan rekonstruksi dan rehabilitasi, atas arahan Bapak Presiden untuk kita bergerak cepat. Ini sebenarnya masih tahapan masa tanggap darurat,"
Di sisi lain, pemerintah sudah menjanjikan akan membangun kembali rumah-rumah yang hancur itu. Janji itu disampaikan langsung oleh sang Menteri. Hanya saja, sebelum pembangunan fisik dimulai, masih ada pekerjaan persiapan yang harus diselesaikan.
Tim gabungan yang melibatkan TNI, Polri, BNPB, dan pemerintah daerah sudah turun ke lapangan. Mereka melakukan survei untuk mencari lokasi-lokasi yang layak dan aman untuk permukiman baru.
"Jadi kami sudah melakukan survei dibantu teman-teman dari TNI, Polri, BNPB, Pemda. Sudah ada 30 lokasi yang kami survei, 30 lokasi di Aceh yang kalau boleh segera dalam proses,"
Pungkasnya. Upaya pemulihan tampaknya masih panjang. Di balik angka-angka statistik yang dingin, tersimpan puluhan ribu kisah pilu warga yang kehilangan tempat bernaung.
Artikel Terkait
Anggota TNI Terlibat Keributan di Toko Kelontong Kemayoran, Berujung Damai
93 Sekolah Rakyat Mulai Beroperasi Juni 2026, Target Tampung Siswa Miskin
Polisi Konfirmasi Prajurit TNI dan Pemilik Warung di Kemayoran Berdamai, Tak Ada Tuntutan Ganti Rugi
Sultan Kemenaker Akui Biayai Kampanye Mantan Menteri Ida Fauziah