MAKASSAR – Stadion Gelora BJ Habibie di Parepare bakal ramai Senin depan. PSM Makassar akan menjamu Semen Padang FC dalam lanjutan Super League 2025/2026. Ini duel pekan ke-19 yang diwarnai sejarah panjang, tapi juga segudang tanda tanya untuk kondisi kedua tim sekarang.
Kalau mau lihat catatan lama, PSM memang lebih dominan. Dari sembilan pertemuan, Juku Eja menang empat kali. Semen Padang cuma tiga, sementara dua laga lainnya berakhir imbang. Tapi, statistik itu seperti album foto lawas menarik dikenang, tapi belum tentu menggambarkan wajah hari ini.
Yang menarik, nama-nama pencipta gol terbanyak dalam rivalitas ini justru sudah tak ada di lapangan hijau PSM. Dua bomber andalan itu: Zulham Zamrun dan Ferdinan Sinaga.
Zulham, sang penyisir sayap kanan, punya tiga gol. Sementara Ferdinan Sinaga, si target man, mencatatkan dua gol. Pemain lain dari kedua kubu paling banyak cuma mencetak satu.
Tapi ya, itu dulu. Zulham Zamrun kini seperti menghilang. Terakhir membela Persijap Jepara, musim lalu. Kabarnya dia sudah pensiun, statusnya tanpa klub.
Lain cerita dengan Ferdinan Sinaga. Pemain berjuluk The Dragon itu rupanya belum kapok. Di usia 37 tahun, berdasarkan data yang beredar, dia kini membela Persma Manado. Sebelumnya sempat berkostum Persiba Balikpapan. Masih ingin main, katanya.
Mereka berdua dulu adalah mesin gol PSM. Zulham gesit di sisi kanan, Ferdinan jadi ujung tombak yang dingin. Era sudah berganti.
Produktivitas dan Kenangan Manis
Secara total, PSM lebih produktif. Sudah 15 kali bola Juku Eja menggoyang jala Kabau Sirah. Sementara Semen Padang cuma bisa balas 10 gol. Itu pun biasanya dengan skor ketat, 2-1 atau 1-1. Hanya sekali PSM menang telak: 4-0 di Stadion Andi Mattalatta, Oktober 2017, di bawah asuhan Robert Alberts. Kemenangan besar yang masih dikenang.
Dan satu fakta yang mungkin bikin Semen Padang ciut: di kandang sendiri, PSM belum pernah kalah atau seri dari mereka. Rekor kandang 100% sempurna untuk Pasukan Ramang.
Tapi Statistik Bukan Segalanya
Namun begitu, jangan terbuai angka-angka tadi. Situasi kedua tim sekarang jauh berbeda. Semen Padang, misalnya, melakukan pembersihan besar-besaran di putaran kedua ini. Mereka mendatangkan pemain baru, baik lokal maupun asing, yang diharapkan lebih berkualitas.
Di sisi lain, PSM justru sedang terhimpit masalah. Badai banned FIFA karena tunggakan gaji masih mengancam. Efeknya jelas: mereka tak bisa merekrut pemain di bursa transfer yang tinggal hitungan hari. Tenggat waktu 6 Februari 2026 seakan jadi momok.
Jadi, duel Senin nanti lebih dari sekadar balas dendam atau pertahankan rekor. Ini ujian nyata.
Mencari Mesin Gol Pengganti
Tanpa Zamrun dan Sinaga, PSM dituntut menemukan pencipta gol baru. Siapa yang akan konsisten membongkar pertahanan Semen Padang yang biasanya alot? Bermain di Parepare memang memberi keuntungan psikologis dan dukungan suporter. Tapi beban sejarah 15 gol itu bisa jadi pedang bermata dua. Kalau gol cepat tak kunjung datang, tekanan justru akan membesar.
Pertandingan ini juga jadi ajang pembuktian bagi Tomas Trucha. Apakah pelatih asal Ceko itu bisa mencetak “Dragon” baru dari skuad yang ada? Atau justru Semen Padang, dengan wajah barunya, yang akhirnya mematahkan kutukan tandang dan memperbaiki catatan gol mereka.
Jawabannya, kita lihat saja Senin nanti di GBH Parepare.
Artikel Terkait
Persib Bandung Balikkan Keadaan, Kalahkan Bhayangkara 4-2 dan Rebut Puncak Klasemen dari Borneo FC
Tim Uber Indonesia Kalahkan Denmark, Tantang Korea Selatan di Semifinal
Pedrosa Prediksi Duel Bezzecchi vs Marquez di MotoGP 2026, Martin Jadi Kuda Hitam
Bruno Moreira Diuji di Empat Laga Sisa: Kapten Persebaya Harus Buktikan Diri di Tengah Standar Tinggi Bernardo Tavares