Persidangan kasus narkotika yang menjerat Ammar Zoni kembali digelar di PN Jakarta Pusat, Kamis lalu. Ruang sidang kali ini terasa sedikit berbeda. Dokter Kamelia, sang kekasih, hadir dengan membawa putri mereka. Kehadiran keluarga kecilnya itu seperti memberi warna tersendiri di tengah ketegangan proses hukum.
Agenda sidang sendiri menghadirkan tiga saksi ahli dan satu saksī meringankan. Namun, usai persidangan, perhatian justru tertuju pada keluhan Ammar. Aktor itu terang-terangan menyatakan keberatannya. Masalahnya? Penempatannya di Lapas high risk Nusakambangan yang ia anggap jauh dari kata proporsional.
Dengan nada suara yang penuh harap, Ammar berujar,
"Dari semua hal ini, kami berharap sekali untuk Pak Dirjen bisa membuka waktu untuk kesempatan untuk diwakilkan oleh kuasa hukum saya dan orang terdekat saya untuk datang bertemu."
Ia merasa pemindahan itu adalah tindakan berlebihan yang turut menghancurkan reputasinya. "Karena saya bukan tempatnya di situ, dan saya bukan sebagai seorang penjahat besar gitu yang harus dibikin seolah-olah dihancurkan hidup saya," tegasnya. Citra yang terbentuk saat ini, menurutnya, terlalu menyudutkan.
Di sisi lain, kasus yang ia hadapi memang tak bisa dibilang ringan. Ammar didakwa terlibat dalam jaringan peredaran sabu dan ganja di Rutan Salemba. Ini bukan kali pertama baginya berurusan dengan narkotika. Tapi di tengah beratnya dakwaan, ia tetap meminta agar hak-haknya sebagai warga binaan dipertimbangkan. Akses untuk bertemu keluarga, misalnya, yang selama ini sangat ia rindukan.
Artikel Terkait
No Na Rilis Work (+62), Video Musik yang Sorot Kekuatan Fisik dan Tarian
Banjir Longsor Cisarua, BRI Bergerak Cepat Bantu Korban dan Trauma Healing
Tiga Puluh RT di Jakarta Masih Terendam, Warga Terpaksa Mengungsi
Changan Deepal S07 Resmi Meluncur, Siap Goyang Dominasi BYD Sealion 7