“Pastikan mulai dari kultur, tingkatkan kinerja, lalu pengawasan di pelabuhan dan bandara,” papar Djaka. “Kita perbaiki semua pelayanan. Kalau masyarakat ada yang kurang puas, ya sedikit demi sedikit kita benahi.”
Prioritas utama sekarang memang memulihkan kepercayaan publik. Caranya? Tidak cuma jargon. Djaka menyebut sejumlah terobosan teknologi sudah dijalankan. Misalnya, memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mendeteksi praktik under-invoicing di pelabuhan.
“Sudah banyak upayanya. Kita coba manfaatkan teknologi yang ada, hubungkan dengan AI. Alat-alat kita kembangkan dengan kemampuan AI. Memang belum sempurna, tapi kita sudah mengarah ke sana,” tuturnya.
Jadi, melalui modernisasi sistem dan perubahan kultur internal, Djaka ingin menunjukkan bahwa institusinya bergerak serius. Pernyataan sang menteri, baginya, adalah pemicu. Pemicu untuk memperkuat integritas dan profesionalisme ribuan pegawai Bea Cukai di lapangan. Tantangannya nyata, waktu pun terus berjalan.
Artikel Terkait
Pertamina Naikkan Harga BBM Nonsubsidi, Pertalite dan Solar Tetap Stabil
Serangan AS ke Iran Habiskan Rp13 Triliun dalam 24 Jam
IMF Peringatkan Konflik Iran-AS dan Israel Ancam Stabilitas Ekonomi Global
Prabowo Segera Hubungi Pemimpin Teluk Usai Serangan AS-Israel ke Iran