“Pastikan mulai dari kultur, tingkatkan kinerja, lalu pengawasan di pelabuhan dan bandara,” papar Djaka. “Kita perbaiki semua pelayanan. Kalau masyarakat ada yang kurang puas, ya sedikit demi sedikit kita benahi.”
Prioritas utama sekarang memang memulihkan kepercayaan publik. Caranya? Tidak cuma jargon. Djaka menyebut sejumlah terobosan teknologi sudah dijalankan. Misalnya, memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mendeteksi praktik under-invoicing di pelabuhan.
“Sudah banyak upayanya. Kita coba manfaatkan teknologi yang ada, hubungkan dengan AI. Alat-alat kita kembangkan dengan kemampuan AI. Memang belum sempurna, tapi kita sudah mengarah ke sana,” tuturnya.
Jadi, melalui modernisasi sistem dan perubahan kultur internal, Djaka ingin menunjukkan bahwa institusinya bergerak serius. Pernyataan sang menteri, baginya, adalah pemicu. Pemicu untuk memperkuat integritas dan profesionalisme ribuan pegawai Bea Cukai di lapangan. Tantangannya nyata, waktu pun terus berjalan.
Artikel Terkait
Yayasan Gates Siapkan Rp150 Triliun, Tapi PHK 500 Karyawan Mengintai
Cipratan Air Banjir Picu Amuk, Warga Koja Berakhir dengan Luka di Wajah
Ekonomi Jerman Akhirnya Tumbuh Tipis, Tapi Beban Ekspor Masih Membelit
Ekspor Mobil Ramah Lingkungan Korsel Tembus Rp1.200 Triliun di Tengah Pergeseran Pasar