Angka inflasi tahunan Indonesia memang naik di awal 2026. Tapi jangan buru-buru khawatir. Kondisinya masih dianggap terkendali, bahkan disebut-sebut bisa jadi fondasi untuk stabilitas ekonomi dalam negeri.
Laporan terbaru dari tim riset ekonomi Bank Mandiri menyebutkan, inflasi Januari 2026 tercatat 3,55 persen secara tahunan. Angka ini melonjak cukup signifikan jika dibandingkan dengan posisi Desember 2025 yang hanya 2,92 persen.
Begitu bunyi laporan Office of Chief Economist Bank Mandiri yang dirilis 3 Februari lalu. Mereka bilang, kenaikan ini tak lepas dari efek basis rendah tahun sebelumnya. Waktu itu, ada diskon listrik 50 persen yang bikin angka inflasi terdorong turun, sehingga perbandingannya tahun ini jadi tampak tinggi.
Nah, kalau dilihat strukturnya, tekanan harga paling keras datang dari dua kelompok. Yang pertama, perawatan pribadi dan jasa lainnya, yang melesat 15,22 persen secara tahunan utamanya didorong kenaikan gila-gilaan harga emas perhiasan. Lalu, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga juga ikut naik 11,93 persen.
Tapi di balik angka tahunan yang naik itu, ada cerita menarik dari sisi bulanan. Indonesia justru mengalami deflasi di Januari. Badan Pusat Statistik mencatat Indeks Harga Konsumen turun 0,15 persen dibanding bulan sebelumnya.
Pasokan pangan yang melimpah ruah selama musim panen jadi penyebab utama. Ditambah lagi, tarif transportasi yang melonjak di akhir tahun akhirnya kembali normal.
Artikel Terkait
Jeffrey Hendrik Resmi Pimpin BEI, Gantikan Iman Rachman
Prabowo Gagas Gentengisasi, Tantangan Berat di Timur Indonesia
IHSG Terombang-ambing, Investor Disarankan Berburu Saham Unggulan di Tengah Sorotan MSCI
AMOR Gelontorkan Dividen Rp28,6 Miliar, Yield Tembus 3,5%