Kalimantan Barat jadi lokasi pertama program terbaru BNPP RI. Namanya BNPP MENYALA, singkatan dari Menyapa Langsung Praja dan Mahasiswa. Intinya, badan itu ingin ngobrol langsung dengan para calon birokrat muda soal kompleksnya urusan perbatasan.
Acara perdana digelar di IPDN Kampus Kalimantan Barat, Selasa lalu. Ini cikal bakal rangkaian sosialisasi yang rencananya bakal menjangkau delapan ibu kota provinsi perbatasan. Pesertanya? Para praja IPDN dan mahasiswa dari berbagai kampus negeri.
Forumnya sendiri dibuat santai tapi serius. Tujuannya jelas: membuka ruang diskusi langsung antara BNPP dengan para praja. Lewat pendekatan ini, berbagai tantangan, dinamika, sampai peluang pembangunan di kawasan terdepan Indonesia bisa dibicarakan lebih cair.
Sekretaris BNPP RI, Komjen Pol. Makhruzi Rahman, hadir dan menyampaikan pesan kunci. Menurutnya, mengelola perbatasan itu bukan pekerjaan biasa. Butuh aparatur yang paham lintas sektor dan punya kemampuan koordinasi mumpuni.
"Perbatasan itu membutuhkan dirigen. Praja IPDN disiapkan untuk memahami aspek hukum, administrasi, dan sosial secara utuh, sehingga kelak mampu mengoordinasikan pelayanan dan tata kelola di kawasan perbatasan tanpa ego sektoral,"
Begitu tegas Makhruzi dalam keterangannya, Rabu (4/3).
Materi yang dibahas cukup beragam. Mulai dari pengenalan batas wilayah, konsep pengelolaan, peran penting Pos Lintas Batas Negara (PLBN), sampai isu-isu aktual yang lagi hangat. Makhruzi juga menekankan, kehadiran negara di perbatasan bukan cuma urusan administrasi belaka. Lebih dari itu, untuk menjaga dan memupuk nasionalisme warga di tapal batas.
"Praja dibutuhkan untuk menjalankan fungsi pembinaan masyarakat. Nasionalisme warga perbatasan harus dijaga melalui pelayanan yang humanis dan solutif, bukan semata-mata instruksi formal,"
tambahnya lagi.
Harapannya sih sederhana. Lewat kegiatan ini, pemahaman praja tentang tugas BNPP bisa makin dalam. Sinergi dengan IPDN juga diharapkan makin kuat. Di akhir sambutannya, Makhruzi menyelipkan harapan yang lebih personal.
"Mudah-mudahan adek-adek kita bisa menjalankan perkuliahan dengan baik dan sampai akhir dengan nilai yang baik dan attitude yang baik,"
ucapnya.
Di sisi lain, Nur Kholis dari Kelompok Ahli BNPP membawa perspektif yang berbeda. Ia mengajak para mahasiswa untuk melihat perbatasan dari kacamata yang lebih luas, bahkan global. Ia memaparkan teori, evolusi konsep, hingga fungsi strategis kawasan perbatasan di berbagai negara. Tak lupa, isu strategis seperti HAM dan pentingnya pola pikir kritis buat calon aparatur juga disorot.
Kegiatan yang dimoderatori Dr. Maris Gunawan Rukmana ini dinilai BNPP sebagai langkah awal yang penting. Mereka berharap, selain meningkatkan pemahaman, program ini bisa menumbuhkan kesadaran akan arti penting pembangunan perbatasan. Dan yang utama, memperkuat komitmen anak muda untuk mendukung pengelolaan perbatasan yang berdaulat.
Jadi, lewat BNPP MENYALA, komitmen untuk hadir di tengah generasi muda terus diwujudkan. Membangun sinergi dengan kampus, menyiapkan SDM aparatur yang tak cuma pintar secara administratif, tapi juga punya wawasan kebangsaan yang kuat. Siap mengabdi di ujung-ujung negeri.
Artikel Terkait
Yordania Hukum Mati Warga yang Bunuh Tiga Aparat dalam Penggerebekan Narkoba
SMA Triguna 1956 Gelar Tri Art Festival, Implementasi Project Based Learning untuk Asah Keterampilan Abad 21
Hakim Vonis 1,5 Tahun Penjara Pemilik WO Ayu Puspita, Lebih Ringan dari Tuntutan Jaksa
Kapolsek di Lampung Terpental Saat Mobil Patroli Ditabrak Pengedar Narkoba