Proses dekontaminasi zat radioaktif Cesium-137 di kawasan industri Cikande, Banten, masih terus berjalan. Menurut KLHK, pekerjaan di lapangan belum sepenuhnya tuntas.
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Hanif Faisol Nurofiq, memberikan penjelasan soal perkembangan terbaru ini dalam sebuah rapat kerja dengan DPR, Rabu lalu. Dari paparannya, upaya sterilisasi di 12 titik yang teridentifikasi ternyata sudah rampung. Material-material terkontaminasi pun sudah diamankan.
“Sampai hari ini material yang terkontaminasi tersimpan di interim storage PT PMT sejumlah 1.136 ton,” ujarnya.
Namun begitu, satu masalah tersisa. Ternyata, masih ada satu lokasi yang diduga kuat menyimpan sisa paparan radioaktif. Titik itu diyakini berada di bawah pondasi sebuah bangunan, sehingga penanganannya jadi lebih rumit.
“Ada satu titik yang kemudian masih kita dalami karena kemungkinan bahan nuklir ini berada di bawah pondasi bangunan,” kata Hanif.
Ini situasi yang pelik. Pemerintah terpaksa mempertimbangkan opsi terberat: merobohkan bangunan tersebut jika dekontaminasi dari permukaan dirasa mustahil. Keputusan akhir, tentu saja, masih menunggu hasil kajian teknis yang lebih mendalam.
“Sepertinya kita mau tidak mau harus mengganti rumah tersebut untuk kita robohkan kalau memang Cesium berada di pondasi bangunan yang tidak bisa kita lakukan dekontaminasi,” jelasnya.
Di sisi lain, Hanif menekankan bahwa penanganan insiden semacam ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati. KLHK pun sudah mengajak BRIN untuk bersiap, menggariskan langkah-langkah teknis lanjutan guna menetralisir material berbahaya itu secara permanen. Semuanya butuh ketelitian ekstra, mengingat risiko yang dihadapi.
Artikel Terkait
BMKG Proyeksikan Musim Kemarau 2026 Lebih Panjang dan Kering, Imbau Sektor Pangan hingga Energi Bersiap
Kementerian Haji Bongkar Jaringan Penipuan Badal dan Kurban, Satu Pelaku Ditangkap di Arab Saudi
All Cipayung Nusantara Minta Sidang Kasus Dugaan Ijazah Palsu Jokowi Digelar Terbuka
Prabowo Tegaskan Komitmen Wujudkan Swasembada Pangan dan Energi demi Kemandirian Bangsa