Satu Titik Radioaktif Tersembunyi di Bawah Pondasi, Bangunan di Cikande Terancam Dibongkar

- Rabu, 03 Desember 2025 | 13:15 WIB
Satu Titik Radioaktif Tersembunyi di Bawah Pondasi, Bangunan di Cikande Terancam Dibongkar

Proses dekontaminasi zat radioaktif Cesium-137 di kawasan industri Cikande, Banten, masih terus berjalan. Menurut KLHK, pekerjaan di lapangan belum sepenuhnya tuntas.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Hanif Faisol Nurofiq, memberikan penjelasan soal perkembangan terbaru ini dalam sebuah rapat kerja dengan DPR, Rabu lalu. Dari paparannya, upaya sterilisasi di 12 titik yang teridentifikasi ternyata sudah rampung. Material-material terkontaminasi pun sudah diamankan.

“Sampai hari ini material yang terkontaminasi tersimpan di interim storage PT PMT sejumlah 1.136 ton,” ujarnya.

Namun begitu, satu masalah tersisa. Ternyata, masih ada satu lokasi yang diduga kuat menyimpan sisa paparan radioaktif. Titik itu diyakini berada di bawah pondasi sebuah bangunan, sehingga penanganannya jadi lebih rumit.

“Ada satu titik yang kemudian masih kita dalami karena kemungkinan bahan nuklir ini berada di bawah pondasi bangunan,” kata Hanif.

Ini situasi yang pelik. Pemerintah terpaksa mempertimbangkan opsi terberat: merobohkan bangunan tersebut jika dekontaminasi dari permukaan dirasa mustahil. Keputusan akhir, tentu saja, masih menunggu hasil kajian teknis yang lebih mendalam.

“Sepertinya kita mau tidak mau harus mengganti rumah tersebut untuk kita robohkan kalau memang Cesium berada di pondasi bangunan yang tidak bisa kita lakukan dekontaminasi,” jelasnya.

Di sisi lain, Hanif menekankan bahwa penanganan insiden semacam ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati. KLHK pun sudah mengajak BRIN untuk bersiap, menggariskan langkah-langkah teknis lanjutan guna menetralisir material berbahaya itu secara permanen. Semuanya butuh ketelitian ekstra, mengingat risiko yang dihadapi.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar