Said mengonfirmasi bahwa IMIP memang memiliki bandara sendiri. Lokasinya persis di sebelah kawasan industri. Bandara ini berbeda dengan bandara milik pemerintah yang letaknya sekitar 60–80 km dari lokasi.
“Saya tidak tahu izin operasionalnya seperti apa, tapi bandara itu memang besar dan sangat memudahkan keluar-masuk tenaga kerja mereka,”
ungkapnya.
Ia juga menyoroti pelabuhan besar milik IMIP. Menurutnya, pelabuhan itu rawan menjadi celah masuknya tenaga kerja asing tanpa pengawasan ketat. “Saya tidak tahu apakah bea cukai dan imigrasi benar-benar ada dan berfungsi di pelabuhan itu,” tambahnya.
Menurut Said, kawasan industri pertambangan dan smelter di era pemerintahan Joko Widodo berkembang bak “negara dalam negara”. Begitu tertutup dan sulit diawasi publik. Ia mengambil contoh lain, seperti Weda Bay di Maluku Utara, yang juga punya kawasan industri, pelabuhan, hingga bandara privat yang sulit diakses masyarakat.
Yang memprihatinkan, meski nilai ekspor nikel mencapai ribuan triliun rupiah, kesejahteraan masyarakat setempat tak banyak berubah. Saat berkunjung ke Morowali pada 2015 dan 2025, Said mengaku tidak melihat peningkatan berarti.
“Mall terbesar masih hanya minimarket. Mobil baru hampir tidak ada. Infrastruktur publik tidak berkembang signifikan. Nikel yang keluar ribuan triliun, tapi hanya puluhan miliar yang masuk ke daerah,”
keluhnya.
Said juga menyinggung temuan KPK soal dugaan penyelundupan 5,3 juta ton ore nikel senilai Rp14,5 triliun. Data itu tidak tercatat di Indonesia, tapi muncul di Tiongkok. Ia menduga, penyelundupan itu mungkin terjadi melalui pelabuhan khusus milik IMIP, mengingat volume ekspor yang besar terkonsentrasi di sana.
Namun begitu, ia mengapresiasi langkah Satgas Penertiban Kawasan Hutan yang dipimpin Jenderal TNI (Purn.) Safri Samsudin, yang kini menyoroti kasus bandara di IMIP. Said berharap ini jadi pintu masuk untuk mengusut dugaan pelanggaran lain di sektor tambang.
“Saya berharap rezim baru benar-benar membongkar semua skandal pertambangan, dari Morowali, Weda Bay, Maluku Utara, Papua, hingga Kalimantan,”
pungkasnya.
Artikel Terkait
FCC Beri Izin, Armada Satelit Starlink Elon Musk Bakal Tembus 15.000 Unit
Nobar Berujung Ricuh: Petasan Picu Bentrok Suporter di Depok
Korban Jiwa Membengkak, Iran Hadapi Gelombang Kerusuhan Terbesar
Ketegangan Iran-AS Memanas, Ketua Parlemen Ancam Serang Israel dan Pangkalan Amerika