Proses ini mencapai momen penting lewat Kyoto Protocol (1997), yang untuk pertama kalinya menetapkan target pengurangan emisi yang mengikat secara hukum. Tapi konsensus global ternyata rapuh. Amerika Serikat menolak meratifikasi protokol itu.
Selanjutnya, COP mengalami pasang surut: dari kegagalan di Kopenhagen (2009) hingga keberhasilan Paris Agreement (2015) yang lebih inklusif.
Penentangan terhadap COP tak cuma datang dari negara. Korporasi multinasional di sektor energi fosil seperti ExxonMobil dan Chevron sering menolak regulasi ketat karena dianggap mengancam keuntungan bisnis. Elit global yang dekat dengan industri ekstraktif juga aktif melobi untuk melemahkan komitmen COP.
Sejarawan Naomi Oreskes dan Erik M. Conway dalam Merchants of Doubt (2010) menulis:
Di sisi lain, mengapa gerakan melawan pemanasan bumi banyak dipengaruhi kalangan New Left? Sebab, mereka tak hanya membingkai isu iklim sebagai masalah teknis, tapi juga sebagai persoalan keadilan global, solidaritas lintas negara, dan hak budaya.
Pemikiran yang menekankan kesetaraan, partisipasi, dan kritik terhadap kapitalisme global memberi warna kuat pada diskursus di banyak forum.
Andrew Dobson dalam Green Political Thought (1990) menegaskan:
Gerakan New Left sendiri muncul di Eropa Barat dan Amerika Utara pada akhir 1950-an hingga 1960-an. Ia berkembang lewat gerakan mahasiswa dan protes massal tahun 1968, terutama di Prancis.
Berbeda dengan Old Left yang fokus pada perjuangan kelas dan ekonomi, New Left justru menekankan isu-isu sosial, budaya, dan politik yang lebih luas: hak sipil, feminisme, anti-perang, dan demokrasi partisipatoris.
Inti ajaran dan pola gerakan New Left mencakup beberapa hal. Mereka mengkritik komunisme ortodoks karena dianggap gagal menciptakan masyarakat yang benar-benar bebas dan demokratis. Mereka juga menolak pemujaan terhadap pertumbuhan ekonomi tanpa batas, yang dianggap memicu ketidakadilan sosial dan kerusakan lingkungan.
Selain itu, mereka mengusung demokrasi partisipatoris keterlibatan langsung warga dalam pengambilan keputusan politik. Isu lintas identitas seperti feminisme, hak minoritas, dan anti-rasisme juga jadi perhatian utama, sesuatu yang kerap diabaikan Old Left. Gerakan ini pun lebih mengandalkan mobilisasi akar rumput: komunitas lokal, mahasiswa, dan kelompok budaya.
Pandangan ini menunjukkan bagaimana asas gerakan menghubungkan isu lingkungan dengan agenda sosial yang lebih luas.
New Left menjadi wadah bagi gerakan global yang menekankan keadilan sosial, keberlanjutan lingkungan, dan solidaritas lintas budaya. Jejaknya masih terasa dalam forum-forum internasional, di mana isu iklim tak lagi cuma dibahas sebagai masalah teknis, tapi juga persoalan keadilan.
Jaringan kerja dan kemitraan yang mereka bangun berorientasi pada tujuan utama: keadilan sosial dan lingkungan. Itulah sebabnya banyak yang menggolongkannya dalam tradisi New Left. Ajaran dan gerakan ini kemudian mempengaruhi kerangka kerja yang melibatkan bukan hanya negara, tapi juga masyarakat sipil, komunitas adat, dan kelompok budaya lintas batas.
Dengan begitu, lahirnya COP di bawah PBB adalah bagian dari perjalanan panjang yang penuh pasang surut. Dari kesadaran ilmiah, advokasi politik, hingga perdebatan ideologis antara kepentingan negara, korporasi, dan gerakan sosial. COP menjadi arena pertemuan sains, politik, dan ideologi sekaligus bukti bahwa perubahan iklim adalah ancaman bersama yang hanya bisa diatasi lewat kerja sama global yang berkelanjutan.
Artikel Terkait
Bobotoh Kepincut Kapten Persija, Rizky Ridho Jadi Rebutan Jelang Duel Klasik
OKI Kecam Israel: Pengakuan Somaliland Dinilai Langgar Kedaulatan Somalia
Kekejaman di Clay County: Seorang Pria Tewaskan Enam Orang, Termasuk Anak 7 Tahun
Diskon Pajak Bodong di Jakarta Utara, Skema Korupsi Ternyata Berulang