Kasus perundungan yang menimpa seorang siswi kelas 6 SD, NER, di sebuah sekolah negeri di Kecamatan Tirtajaya, Karawang, akhir-akhir ini menyita perhatian. Asep Junaedi, Ketua Komisi IV DPRD Karawang, secara khusus menyoroti kejadian yang memilukan ini.
Laporan sudah sampai ke meja Polres Karawang. Proses penyelidikan masih terus berjalan, tapi Asep punya pandangan lain tentang cara penyelesaiannya. Menurutnya, musyawarah di tingkat sekolah sebaiknya jadi langkah pertama.
"Ya, menurut hemat saya, ya itu kalau bisa diselesaikan dulu lah di tingkat sekolah, antara pihak sekolah dan kedua orang tua yang ya,"
kata Asep pada Rabu (26/11). Meski begitu, dia sama sekali tidak membenarkan tindakan pelaku.
Di sisi lain, Asep tak tinggal diam. Dia berencana mendatangi Disdikpora dan DP3A Karawang untuk menelusuri kasus ini lebih jauh. Lagi pula, Karawang sebenarnya punya satgas antibullying yang seharusnya bisa mencegah hal-hal seperti ini terjadi. "Program perundungan ini sebetulnya sudah lama, hampir empat tahun ke belakang, sehingga sekolah harus betul-betul mengawasi kondisi para siswa di setiap sekolahnya," ucapnya. Lalu dia menambahkan, "Nah, kalaupun misalnya pada waktu kemarin ada kejadian seperti itu, ini kan harus ada investigasi lah gitu ya. Investigasi agar kita akan tahu kronologisnya seperti apa."
Selain urusan bullying, Asep juga menyoroti fenomena lain yang masih sering terlihat: ramainya siswa yang menggunakan kendaraan listrik ke sekolah. Dia mendesak Disdikpora untuk segera mengevaluasi persoalan ini. "Ya itu kan walaupun sifatnya itu sepeda, tapi kan itu kecepatannya sudah di atas, karena itu kendalinya ada di bawah tenaga kelistrikan ya, bukan karena gowes. Kalau gowes mungkin tidak akan secepat itu. Harusnya ada penertiban lah mungkin melalui Dinas Pendidikan," tegas dia.
Lalu, bagaimana sebenarnya kronologi peristiwa bullying yang menimpa NER ini? Semuanya berawal dari hal sepele. Pelaku, seorang siswa laki-laki, meminjam kipas mini milik NER. Saat ditolak, dia langsung kesal. Tanpa ampun, kerudung NER dijambak hingga tiga kali, disertai kata-kata kasar yang menghina orang tuanya. Tindakannya makin menjadi. Dia menabrakkan sepeda listriknya ke perut NER, melempar batu hingga mengenai paha, dan yang paling menghinakan meludahi wajah korban.
NER berusaha kabur, tapi nasib berkata lain. Dia terjatuh dengan keras. Akibatnya, tulang tangan kanannya patah.
Mendengar dan melihat anaknya mengalami hal seperti itu, sang ibu, Rizka Puspitasari (36), tak kuasa menahan perih. "Ibu mana yang tidak hancur melihat anaknya diperlakukan seperti itu. Secara fisik terluka, secara psikis juga sangat terpukul,"
keluhnya. Rasanya, luka di hati jauh lebih sulit sembuh dibanding luka di tubuh.
Artikel Terkait
Polisi Ungkap Modus Pencucian Uang Rp124 Miliar Sindikat Narkoba The Doctor
BNI Ungkap Penipuan Rp28 Miliar di Luar Sistem, Janji Pengembalian Dana
Target 100 GW PLTS Dinilai Ambisius, Butuh Solusi Penyimpanan dan Lahan
Mensos Tegaskan BPS Satu-satunya Penentu Desil Penerima Bansos