Yang menarik, pandangan tentang harga korporasi domestik juga direvisi. Dari sebelumnya dianggap "datar", sekarang jadi "naik moderat". Perubahan ini cukup signifikan buat dicatat.
Memang, ekonomi Jepang sempat kontraksi di periode Juli-September lalu. Itu jadi kontraksi pertama setelah enam kuartal berturut-turut positif. Tapi para ekonom bilang, penurunan ini lebih karena faktor-faktor khusus aja. Intinya, permintaan swasta secara fundamental masih kuat banget.
Laporan ini muncul pas banget beberapa hari setelah kabinet Perdana Menteri Sanae Takaichi nyetujui paket stimulus ekonomi yang gila-gilaan besarnya. Nilainya mencapai 21,3 triliun yen atau sekitar USD135,8 miliar. Yang bikin tambah heboh, paket ini termasuk pengeluaran rekening umum sebesar 17,7 triliun yen - stimulus terbesar sejak masa pandemi COVID melanda.
Jadi gini, meski ada tantangan inflasi dan gejolak perdagangan global, Jepang tetep optimis. Perlahan tapi pasti, ekonominya mencoba bangkit kembali.
Artikel Terkait
Menaker Akan Bahas Usulan THR Cair H-14 Lebaran dengan Presiden Prabowo
Pemerintah Susun RUU Ketenagakerjaan Baru Akomodir Permintaan AS dan Integrasikan Pasal UU Cipta Kerja
Bnetfit Transformasi dari ISP ke Solusi ICT, Target Jadi Juara Nasional 2026
Sekjen Kabinet Bantah Isu Pemerintah Abaikan Guru, Sebut Tiga Bukti Perhatian