Data per Juni tahun ini mencatat jumlah warga asing di Jepang mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, yakni 3,96 juta orang. Di sisi lain, jumlah overstayer atau pelanggiran izin tinggal juga cukup tinggi, lebih dari 70.000 orang per Juli. Kelompok imigran terbesar, warga China, diperkirakan akan menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.
Kebijakan ini muncul bersamaan dengan disetujuinya paket stimulus ekonomi senilai 21,3 triliun yen oleh kabinet Perdana Menteri Sanae Takaichi. Perdana Menteri sendiri dikenal memiliki sikap yang cukup tegas dalam hal kebijakan imigrasi.
Nah, untuk mewujudkan kenaikan ini, pemerintah harus merevisi undang-undang yang selama ini membatasi biaya visa maksimal 10.000 yen. Batas itu sendiri sudah tak berubah sejak 1981.
Tak Hanya Penduduk, Wisatawan Juga Kena
Bukan cuma mereka yang ingin tinggal lama, wisatawan internasional pun bakal terkena imbas. Biaya visa single-entry yang sekarang 3.000 yen rencananya akan dinaikkan tahun depan agar setara dengan standar negara Barat.
Sebagai gambaran, visa kunjungan jangka pendek di AS saat ini sebesar 185 dolar AS, sementara di Inggris sekitar 166 dolar AS.
Pendapatan tambahan dari sektor pariwisata ini nantinya akan digunakan untuk menangani masalah overtourism yang kian menjadi, terutama di kota-kota besar seperti Kyoto dan Tokyo.
Artikel Terkait
AS Tawarkan Hadiah 5 Juta Dolar untuk Tangkap Dua Bos Kartel Sinaloa
BEI Targetkan Tambah 50.000 Investor Syariah Aktif pada 2026
Pohon Tumbang di Sudirman Pagi Ini, Lalu Lintas Menuju Bundaran HI Macet Parah
DKI Tambah 63 Sekolah Swasta Gratis, Total Jadi 103 pada Juli 2026