Dari sudut tata kelola, Burhanuddin Abdullah dari BA Center menyoroti perlunya reformasi. "Kebijakan fiskal daerah yang efisien dan berbasis evidensi menjadi fondasi dalam mendukung pertumbuhan menuju 8 persen," katanya. Fondasi yang kuat, menurutnya, akan mendorong produktivitas jangka panjang.
Sektor kreatif dan digital juga tak ketinggalan. Ahmad Ridha Sabana, Utusan Khusus Presiden Bidang UMKM, Ekonomi Kreatif, dan Digital, menyampaikan bahwa kedua sektor ini ditempatkan sebagai penggerak penting dalam mandat nasional. "Penguatan sektor kreatif dan digital menjadi bagian dari strategi nasional dalam memperluas kontribusi ekonomi baru berbasis inovasi," paparnya.
Soal akuntabilitas, Eydu Oktain Panjaitan dari BPK Provinsi Jawa Barat punya catatan tersendiri. Efektivitas belanja publik dan tata kelola, dalam pandangannya, adalah bagian tak terpisahkan dari pembangunan ekonomi. "Akuntabilitas dan efektivitas belanja daerah merupakan pilar penting dalam mendukung agenda pertumbuhan Jawa Barat," tegas Eydu.
Tak ketinggalan, peran koperasi juga disoroti. Rully Nuryanto, Staf Ahli Menteri Koperasi, mewakili menteri menyampaikan bahwa revitalisasi koperasi modern akan menjadi tulang punggung partisipasi ekonomi warga. "Penguatan koperasi modern diharapkan mampu meningkatkan pembiayaan produktif dan memperkuat keterlibatan pelaku usaha rakyat," ujarnya.
Semua elemen ini, jika bersinergi, diharapkan bisa mendorong Jawa Barat dan Indonesia menuju target pertumbuhan 8 persen dan visi Indonesia Emas 2045. Sebuah mimpi besar yang butuh kerja keras, tentunya.
(Dhera Arizona)
Artikel Terkait
Pasien Super Flu Meninggal di RSHS, Komorbid Diduga Jadi Pemicu Utama
Dari Puing Kebakaran ke Pasar Global: Kisah Dewi Aminah Bangun Iswara Food
MIND ID dan Pertamina Sepakati Kerja Sama Hilirisasi Batu Bara untuk Tekan Impor LPG
Pemerintah Siapkan Insentif Rp570 Triliun untuk Dongkrak Ekonomi 2025