Pemerintah punya cara unik untuk mendorong ekonomi: lewat pajak dan bea cukai. Tapi jangan salah, ini bukan cuma soal menambah pemasukan negara. Justru sebaliknya, kebijakan ini banyak dipakai untuk memberikan insentif, semacam bantuan, baik untuk masyarakat biasa maupun kalangan pengusaha.
Nah, buat tahun 2025, ada angka yang cukup menarik. Pemerintah memperkirakan belanja perpajakan bakal menyentuh Rp530,3 triliun. Angka itu naik sekitar 2,23 persen dari tahun sebelumnya. Lho, kok disebut belanja? Iya, karena ini sebenarnya adalah potensi penerimaan negara yang sengaja tidak dipungut. Jadi, uang yang mestinya masuk ke kas negara, dibiarkan tetap di kantong masyarakat dan pelaku usaha di sektor-sektor yang dianggap strategis.
Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, mencoba menjelaskan hal ini dengan bahasa yang lebih sederhana dalam sebuah konferensi pers di Jakarta.
"Rp530,3 triliun itu artinya apa? Artinya, teman-teman di Direktorat Jenderal Pajak mengaplikasikan aturan-aturan sehingga yang harusnya bayar pajak, tapi diberikan pembebasan," ujarnya.
Lalu, kemana saja aliran insentif pajak yang besar itu diarahkan? Fokusnya ke kebutuhan pokok masyarakat. Pajak Pertambahan Nilai untuk bahan makanan, contohnya, dibebaskan. Sektor-sektor penting lain seperti pendidikan, transportasi umum, dan kesehatan juga dapat keringanan.
Di sisi lain, pemerintah tampaknya tak melupakan tulang punggung ekonomi: para pelaku UMKM. Mereka mendapat dukungan lewat penerapan pajak final dan tarif khusus yang lebih ringan. Sementara untuk menarik investor besar, ada fasilitas seperti tax holiday dan tax allowance yang sudah lama dinanti.
Artikel Terkait
Bank Woori Saudara Optimalkan Strategi Pendanaan dan Kredit untuk Jaga Margin
Inggris Tolak Dukung Rencana Blokade AS di Selat Hormuz
Organisasi Kristen Laporkan Jusuf Kalla ke Polda Metro Jaya Soal Ceramah yang Dinilai Resahkan
Walhi: Kenaikan Harga Plastik Tak Otomatis Kurangi Sampah, Perlu Perubahan Sistem