Menurut catatan, jadah tempe pertama kali dipopulerkan oleh Ngadikem Sastrodinomo, seorang carik atau juru tulis desa, pada era 1950-an. Warungnya di Telaga Putri, Kaliurang, menjadi tempat awal hidangan ini dikenal publik. Inovasinya pun menarik perhatian kalangan keraton, termasuk Sri Sultan Hamengkubuwono IX, yang konon memberikan saran agar jadah tempe dilengkapi dengan sebutan "Mbah Carik" untuk membedakannya dari hidangan lain.
Cerita bahwa jadah tempe menjadi favorit Sri Sultan turut mengangkat reputasinya. Kuliner ini pun dianggap layak disuguhkan kepada tamu-tamu penting. Posisi Kaliurang sebagai destinasi wisata pegunungan sejak masa kolonial juga turut memperluas popularitas jadah tempe. Bahkan, wisatawan Belanda pada masa itu kerap membelinya karena rasa manis tempe bacem dianggap familiar di lidah mereka.
Kini, jadah tempe telah menjadi identitas kuliner Kaliurang, sejajar dengan gudeg yang menjadi simbol kuliner Yogyakarta secara keseluruhan.
Proses pembuatannya pun masih mempertahankan cara tradisional. Ketan direndam, dikukus, lalu ditumbuk hingga halus. Sementara tempe diolah dengan gula jawa, kecap, bawang, dan rempah hingga menghasilkan warna cokelat pekat dan cita rasa khas. Banyak penjual tetap menggunakan kayu bakar untuk mempertahankan keautentikan rasa, menjaga warisan kuliner ini tetap hidup dari generasi ke generasi.
Artikel Terkait
Transaksi Mata Uang Lokal Indonesia Tembus USD8,45 Miliar di Awal 2026
KAI Siap Dukung Transisi ke B50, Semua Lokomotif Sudah Terbiasa B40
TNI AL Perluas Kerja Sama Pendidikan dengan AS, Kirim Kadet ke US Coast Guard
ATR/BPN Terapkan WFH untuk ASN, Jamin Layanan Pertanahan Tetap Optimal