Pemerintah Indonesia telah menyusun strategi ekonomi untuk tahun 2026 yang berfokus pada optimalisasi dua kebijakan utama: fiskal dan moneter. Rencana ini bertujuan memastikan likuiditas di sistem keuangan dapat disalurkan secara efektif ke sektor riil, dengan prinsip utama mencegah adanya uang yang menganggur.
Luthfi Ridho, Tenaga Ahli Utama Dewan Ekonomi Nasional (DEN), mengungkapkan bahwa pemerintah akan memaksimalkan kedua sisi kebijakan tersebut secara bersamaan. Menurutnya, langkah ini penting mengingat saat ini masih terdapat likuiditas cukup besar dalam sistem keuangan yang belum tersalurkan optimal ke sektor produktif.
“Target kami adalah mendorong pertumbuhan kredit dan menggerakkan ekonomi riil melalui penyaluran likuiditas yang lebih efektif,” jelas Luthfi dalam sebuah diskusi di Jakarta.
Kebijakan ekonomi 2026 akan berfokus pada dua tujuan strategis: penciptaan lapangan kerja dan peningkatan daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah. Namun, upaya ini akan tetap memperhatikan stabilitas harga dan pengendalian inflasi sebagai faktor penyeimbang.
Artikel Terkait
Kejagung Periksa Kajari Karo dan Staf, Siap Beri Sanksi Internal Jika Terbukti Lalai
Rekonstruksi Ungkap Adegan Penyayatan Leher dalam Pembunuhan Cucu Mpok Nori
Lonjakan Harga Minyak Picu Kenaikan Tarif dan Dilema bagi Maskapai Penerbangan
Kemenperin Soroti Dampak Ketegangan Timur Tengah ke Rantai Pasok Industri