SBY Beri Peringatan: Dunia Berdiri di Ambang Prahara Besar

- Senin, 19 Januari 2026 | 11:25 WIB
SBY Beri Peringatan: Dunia Berdiri di Ambang Prahara Besar

Suasana global belakangan ini memang bikin deg-degan. Bukan cuma rakyat biasa, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun mengaku dilanda kecemasan yang serius. Ia memandang dinamika dunia yang kian memanas dalam beberapa bulan terakhir dengan was-was.

Kekhawatiran SBY tentu bukan tanpa dasar. Ini lahir dari pengamatannya yang panjang atas peta geopolitik internasional, jejak perdamaian dunia, dan sejarah kelam peperangan yang berulang. Yang bikin ngeri, ia melihat situasi sekarang punya banyak kemiripan dengan kondisi menjelang Perang Dunia Pertama dan Kedua.

Tanda-tandanya, menurutnya, semakin nyata. Mulai dari munculnya pemimpin-pemimpin kuat dengan retorika perang, formasi blok-blok negara yang saling berhadapan, hingga pembangunan kekuatan militer secara masif. Semua itu dibarengi dengan penyiapan mesin ekonomi untuk perang sebuah resep yang terlalu familiar dalam catatan sejarah.

Lewat akun X resminya pada Senin, 19 Januari 2026, SBY menyuarakan kegelisahannya dengan blak-blakan.

“Terus terang saya khawatir. Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga," katanya.

Namun begitu, ia merasa ruang untuk bergerak mencegah malapetaka itu kian menyempit. Sejarah sering menunjukkan, meski tanda bahaya sudah berkibar, dunia kerap gagal mengambil langkah tegas untuk menghentikannya.

"Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah. Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit," ungkapnya.

Ancaman yang paling mengerikan, tentu saja, adalah perang nuklir. SBY mengingatkan berbagai studi yang memprediksi korban jiwa bisa meledak hingga lebih dari lima miliar orang jika senjata pemusnah massal itu digunakan. Imbasnya? Bukan cuma kekalahan satu pihak, melainkan kehancuran total peradaban.

“Tidak ada peradaban yang tersisa dan musnahnya harapan manusia,” tegasnya.

Lalu apa yang bisa dilakukan? SBY menekankan bahwa berdoa saja tidak cukup. Sekalipun doa itu datang dari miliaran manusia, kata dia, tidak akan ada artinya tanpa tindakan nyata. Upaya kolektiflah kuncinya.

“Sesempit apa pun, masih ada waktu dan cara untuk menyelamatkan bumi dan dunia kita. Mari kita berbicara dan berupaya,” ajaknya.

Di sini, ia mengutip pemikiran Edmund Burke dan Albert Einstein. Intinya, kehancuran dunia sering terjadi bukan karena ulah orang jahat semata, tapi karena orang-orang baik memilih untuk diam dan membiarkan segalanya terjadi.

Sebagai langkah konkret, SBY mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera menggelar Sidang Umum Darurat. Sidang itu harus mempertemukan para pemimpin dunia dengan satu agenda tunggal: mencari cara nyata mencegah krisis global, termasuk potensi perang dunia baru.

“Saya tahu, saat ini PBB boleh dikata tidak berdaya dan tidak berkuasa. Tetapi janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan doing nothing,” kata SBY.

Ia sadar, seruan ini mungkin akan ditanggapi dingin. Tapi setidaknya, ini bisa menjadi pemicu awal bagi tumbuhnya kesadaran kolektif. Bagaimanapun, seperti pesan yang ia tutup, if there is a will, there is a way.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar