Bahlil Buka Suara: Ada yang Tak Rela Indonesia Mandiri Energi

- Selasa, 13 Januari 2026 | 14:25 WIB
Bahlil Buka Suara: Ada yang Tak Rela Indonesia Mandiri Energi

Di hadapan Presiden Prabowo, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bicara blak-blakan. Suasana peresmian Infrastruktur Energi Terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan, Senin (12/1), jadi saksi pernyataan kerasnya. Bahlil mengaku, upaya pemerintah membangun fasilitas produksi sendiri untuk tekan impor BBM itu nggak disenangi banyak pihak. Rasanya, jalan yang ditempuh penuh rintangan.

Targetnya jelas: Indonesia ke depan nggak lagi impor BBM, tapi cuma minyak mentah. Pengolahannya akan dilakukan di dalam negeri, dengan fasilitas seperti RDMP Balikpapan tadi. Itu intinya.

"Kalau ini kita mampu lakukan, gerakan-gerakan tambahan ini semakin tipis," ujar Bahlil.

Lalu dia melanjutkan, nada suaranya tegas. "Setelah ini ramai lagi di sosmed karena dianggap Menteri ESDM potong-potong jalur barang impor. Tapi tidak ada masalah, demi merah putih jangankan harta, nyawa pun kita kasih."

Menurut penuturannya, proyek ini punya 'banyak drama'. Jadwal awal peresmian sebenarnya Mei 2024. Tapi apa daya, kebakaran menghambat dan memaksa semua pihak masuk fase pemulihan yang melelahkan.

Bahlil menduga keras ada unsur kesengajaan di balik kobaran api itu. Baginya, kehadiran kilang ini bakal memangkas habis praktik impor BBM yang sudah berjalan lama. Wajar saja kalau ada yang berusaha menghalangi.

"Saya tidak mengerti apakah terbakar karena dibakar atau ada faktor lain," katanya, menyisakan pertanyaan.

Namun begitu, investigasi pun digelar. "Bulan Agustus, saya perintahkan dari Irjen, kami minta investigasi, ternyata ada udang di balik batu."

Dia menutup dengan kesimpulan yang getir. "Masih ada yang tidak rela kalau kita mempunyai cadangan swasembada energi, agar impor terus, impor terus. Kita harus hadapi dalam waktu yang tidak lama lagi."

Pernyataan itu menggambarkan betapa beratnya perjalanan menuju kemandirian energi. Di satu sisi ada tekad membara, di sisi lain, rintangan terasa nyata dan sengaja dihadirkan.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar