Pernahkah Anda merasa begitu berat untuk membuang barang-barang lama? Rasanya seperti ada yang mengganjal. Bukan cuma soal malas atau berantakan, tapi ada ikatan emosional yang bikin kita sulit melepaskan. Padahal, kalau sudah mulai mengganggu kenyamanan dan kebersihan rumah, kondisi ini nggak bisa lagi dianggap sepele.
Dalam dunia psikologi, kondisi ini dikenal sebagai hoarding disorder. Intinya, ini adalah gangguan yang membuat seseorang sulit sekali membuang barang, berapapun nilai gunanya. Akibatnya, barang menumpuk tak terkendali. Ruang hidup jadi sempit, berantakan, dan pada akhirnya mempengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan.
Sayangnya, orang yang mengalami ini sering dicap hanya sebagai pemalas atau tidak disiplin. Padahal, akar masalahnya biasanya lebih dalam: kecemasan, trauma kehilangan, atau kesulitan mengelola emosi. Barang-barang itu sering jadi pelarian.
Menurut sejumlah penelitian, kecenderungan ini bisa muncul sejak remaja. Stres dalam kehidupan sosial justru memperkuat ikatan emosional seseorang pada benda-benda miliknya. Dalam hidup yang serba tidak pasti, barang-barang itu memberikan rasa aman yang semu, sesuatu yang seolah-olah bisa kita kendalikan.
Nah, kalau ditelaah lebih jauh, model kognitif dari Frost dan Hartl mencoba menjelaskannya. Gangguan ini berkaitan dengan kesulitan mengambil keputusan, masalah dalam mengorganisir, serta keyakinan irasional bahwa setiap barang harus disimpan. Takut kehilangan adalah hal yang sentral.
Dari sisi lain, attachment theory atau teori kelekatan juga memberi pencerahan. Barang bisa berfungsi sebagai pengganti rasa aman, terutama ketika kebutuhan akan kasih sayang dan hubungan dengan orang lain tidak terpenuhi dengan baik.
Perspektif Islam sendiri melihat perilaku menimbun secara berlebihan ini tidak hanya sebagai masalah mental, tapi juga spiritual. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:
“Kebersihan itu sebagian dari iman.” (HR. Muslim)
Hadits ini jelas menunjukkan bahwa menjaga kebersihan dan kerapian adalah urusan yang menyentuh keyakinan, bukan sekadar fisik belaka.
Prinsip tentang hidup yang seimbang juga ditegaskan dalam Al-Qur'an. Allah SWT berfirman:
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)
Ayat ini mengingatkan kita untuk memiliki secukupnya, menyimpan seperlunya, dan menghindari keterikatan berlebihan pada hal-hal duniawi.
Oleh karena itu, pendekatan Bimbingan dan Konseling Islami bisa menjadi salah satu solusi. Penanganannya tidak berhenti pada mengubah perilaku, tapi juga menyentuh pemulihan emosi dan penguatan makna hidup. Menata kamar atau rumah bisa dimaknai sebagai bagian dari ibadah, sebagai ikhtiar untuk menata batin. Sebagaimana firman-Nya, Allah mencintai orang-orang yang menyucikan diri.
Jadi, memang tidak semua tumpukan barang adalah tanda gangguan. Namun begitu, ketika ruang hidup semakin sesak dan justru memicu kegelisahan, saatnya kita berefleksi. Karena kerap kali, menata ruang adalah langkah pertama untuk menenangkan jiwa.
Artikel Terkait
Polisi Selidiki Pembobolan Toko Ayam Krispi di Makassar, Kerugian Capai Rp9 Juta
Mahasiswi Tewas Usai Motor Tabrakan dengan Truk Gandeng di Jombang
Polisi Gagalkan Tawuran Remaja di Watampone, Delapan Pelajar Diamankan Bersama Parang dan Busur
Raymond Indra dan Nikolaus Joaquin Tembus Final Indonesia Open 2026 Usai Kalahkan Senior