Ketika negara tak hadir dengan narasi yang solid dan terkoordinasi, menteri pun terdorong tampil sendiri-sendiri. Itu upaya menunjukkan kehadiran negara, sih. Tapi masalah muncul saat kehadiran itu dibarengi produksi konten berlebihan. Niat baik jadi kehilangan legitimasi di mata rakyat.
Arifki menegaskan, presiden seharusnya tak terus-menerus dibebani urusan persepsi.
Peringatan keras Prabowo sendiri dilontarkan dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Senin lalu. Ia meminta pejabat dan tokoh publik yang mendatangi lokasi bencana di Sumatra tidak sekadar datang untuk foto-foto atau pencitraan.
Kepala negara mengaku prihatin. Ia melihat kecenderungan sebagian pihak menjadikan lokasi bencana layaknya “wisata bencana”.
Pesan itu terdengar jelas. Sekarang, tinggal menunggu bagaimana para menteri dan pejabat menyikapinya.
Artikel Terkait
Anggota DPR Desak Percepat Regulasi PPPK untuk 630 Ribu Guru Madrasah
Koordinator KKN UGM 1985 Klaim Tak Kenal Joko Widodo
Rocky Gerung Soroti Rp17 Triliun untuk Dewan Perdamaian Trump: Harga Sebuah Buku dan Nyawa Anak di NTT
Himpunan Mahasiswa Al Washliyah Desak Prabowo Tindak Tegas Erick Thohir