MURIANETWORK.COM – Kritik pedas Presiden Prabowo Subianto soal ‘wisata bencana’ di Sumatera bukan cuma teguran biasa. Lebih dari itu, ini adalah sinyal politik yang jelas. Sang Presiden tampaknya tak ingin kabinetnya berjalan sendiri-sendiri, masing-masing dengan logika dan panggungnya sendiri.
Bencana, dalam situasi seperti ini, jadi ujian nyata. Siapa yang benar-benar bekerja sebagai perpanjangan tangan presiden, dan siapa yang bergerak dengan agenda pribadi?
Pengamat politik Arifki Chaniago melihatnya seperti itu. Dalam keterangan resminya, Selasa (16/12/2025), ia menyebut pernyataan Prabowo adalah upaya menarik kembali kendali atas narasi.
“Prabowo ingin memastikan setiap kehadiran pejabat di lokasi krisis ada dalam satu komando,” katanya. Bukan inisiatif individu yang malah bikin publik bingung.
Arifki tak menampik, saat bencana kerap muncul pejabat yang sibuk membangun citra.
Namun begitu, fenomena ini punya sisi lain. Menurut Arifki, hal itu juga tak lepas dari ruang komunikasi pemerintah yang kerap kosong saat menangani bencana.
Artikel Terkait
Anggota DPR Desak Percepat Regulasi PPPK untuk 630 Ribu Guru Madrasah
Koordinator KKN UGM 1985 Klaim Tak Kenal Joko Widodo
Rocky Gerung Soroti Rp17 Triliun untuk Dewan Perdamaian Trump: Harga Sebuah Buku dan Nyawa Anak di NTT
Himpunan Mahasiswa Al Washliyah Desak Prabowo Tindak Tegas Erick Thohir