Gelombang keresahan di tubuh Nahdlatul Ulama (NU) kini mencapai titik yang cukup mengkhawatirkan. Forum Kiai NU Jawa, yang mewakili suara ratusan kiai pesantren di Pulau Jawa, secara terbuka menyatakan mosi tidak percaya terhadap kepengurusan PBNU saat ini. Ini bukan isu sepele. Ancaman untuk membentuk PBNU tandingan pun mulai terdengar, sebuah sinyal keras yang menunjukkan betapa dalamnya krisis legitimasi yang sedang terjadi.
Konflik internal yang berlarut-larut, yang terus bergulir dan bahkan terbuka ke publik, rupanya telah memicu kekecewaan yang mendalam. Bagi banyak kiai, situasi ini sudah jauh dari prinsip musyawarah dan ketenangan yang selama ini dijunjung tinggi. Alih-alih mereda, dinamika ini justru memberi kesan bahwa mekanisme internal PBNU tak lagi efektif untuk mencari solusi.
Menurut sejumlah saksi, kegelisahan itu sudah lama mengendap. Isu ini bukan lahir dari ruang kosong, melainkan akumulasi dari berbagai persoalan yang tak kunjung menemukan titik temu.
Dalam tradisi NU, legitimasi itu bukan cuma soal struktur formal. Yang lebih penting adalah penerimaan secara kultural dari para kiai dan pesantren, yang menjadi tulang punggung organisasi. Nah, ketika suara dari basis kultural ini merasa tak didengar, krisis pun tak terhindarkan.
Sebagai jalan keluar, Forum Kiai NU Jawa mendesak digelarnya Muktamar Luar Biasa (MLB). Mereka memberi waktu tiga bulan. Bagi forum, MLB ini dianggap sebagai satu-satunya jalan konstitusional untuk mengevaluasi kepemimpinan secara sah dan bermartabat. Kalau tuntutan ini diabaikan? Ya, ancaman membentuk kepengurusan tandingan siap dijalankan sebagai opsi terakhir.
Wacana tentang PBNU tandingan ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran. Bayangkan, dualisme kepemimpinan bisa menciptakan kebingungan yang merambat hingga ke wilayah, cabang, bahkan lembaga pendidikan dan badan otonom NU. Di sisi lain, ini juga jadi ujian nyata bagi soliditas organisasi yang selama puluhan tahun dikenal mampu menjaga persatuan.
Respons dari Berbagai Kalangan
Tanggapan dari dalam NU sendiri beragam. Banyak kiai sepuh dan tokoh senior menyerukan agar semua pihak bersabar. Konflik harus diselesaikan lewat musyawarah internal, tanpa mengambil langkah-langkah ekstrem yang berisiko memecah belah.
Mereka mengingatkan, NU punya sejarah panjang dalam menyelesaikan masalah dengan cara yang elegan.
Namun begitu, alarm keras dari Forum Kiai NU Jawa tetaplah sebuah realitas yang tak bisa dipandang sebelah mata. Ancaman itu menunjukkan betapa lebarnya jarak antara pimpinan struktural di tingkat pusat dengan sebagian basis kulturalnya di akar rumput. Jika dibiarkan, krisis legitimasi ini bisa merusak lebih dari sekadar tatanan organisasi, tetapi juga kepercayaan jutaan warga NU.
Kini, bola ada di tangan kepemimpinan NU. Pilihan ada di depan mata: menyelesaikan sengketa lewat jalan musyawarah yang memperkuat ikatan, atau membiarkannya berlarut hingga memicu perpecahan terbuka. Jawabannya akan menentukan arah organisasi Islam terbesar di Indonesia ini di masa yang akan datang.
Artikel Terkait
Dudung Bantah Terlibat Susun Pidato Prabowo yang Dikritik Habib Rizieq
Presiden Prabowo Terima Laporan Strategis dari Wakil Ketua DPR Usai Kunjungan ke Rusia dan Prancis
Anggota DPR Desak Percepat Regulasi PPPK untuk 630 Ribu Guru Madrasah
Koordinator KKN UGM 1985 Klaim Tak Kenal Joko Widodo