“Saya sudah menawarkan relokasi sejak saya dilantik jadi gubernur, tapi mereka tidak mau.”
Bahkan, ia menyebut kesulitan mendapatkan data lengkap dari tingkat desa. “Saya sempat minta data semua rumah yang berada di daerah sana yang rawan banjir. Tapi kades tidak memberikan semuanya,” tutur Dedi.
Sementara itu, kondisi di lapangan memang cukup memprihatinkan. Menurut data terbaru dari BPBD Karawang, banjir kali ini merendam 26 desa yang tersebar di 12 kecamatan. Jumlah warga terdampak mencapai belasan ribu orang, dengan ribuan rumah terendam air.
Ferry Muharam dari BPBD Karawang membeberkan, ketinggian air bervariasi dari 10 cm hingga 2 meter. Titik terparah ada di Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Timur.
“Jumlah kecamatan yang terdampak banjir tercatat sebanyak 26 desa dari 12 kecamatan.”
Penyebabnya kompleks. Mulai dari hujan deras yang tak henti, luapan Sungai Citarum dan Cibeet, sampai banjir rob yang merangsek dari pesisir. Tim penanggulangan bencana kini berjaga 24 jam, mendistribusikan logistik darurat seperti makanan, minuman, dan selimut untuk warga yang mengungsi.
Polemik rumah panggung viral itu mungkin hanya satu sisi dari cerita yang jauh lebih besar. Di balik perdebatan sudut kamera, ribuan warga Karawang masih bertahan, menunggu air surut dan kembali ke rumah mereka yang mungkin masih basah dan penuh lumpur.
Artikel Terkait
Warga Belu NTT Ditahan Usai Tembak Mati Burung Hantu yang Dilindungi
Pendaki Hilang di Bukit Mongkrang, Pencarian Dihadang Kabut dan Hujan Deras
Dedi Mulyadi Geram, Tambang Ilegal di Subang Beroperasi di Bawah Police Line
Pawang Hujan Mbak Rara Diusir dari Ritual Labuhan Keraton Yogyakarta