Nama Florencia Lolita Wibisono mendadak mencuat ke permukaan. Pramugari senior itu kini tercatat sebagai salah satu korban dalam musibah jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Sulawesi Selatan. Jenazahnya berhasil ditemukan tim SAR di kawasan pegunungan Bulusaraung, persis di perbatasan Kabupaten Pangkep dan Maros, pada Senin, 19 Januari 2026.
Olen begitu ia biasa disapa ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Namun begitu, kondisi fisiknya relatif utuh. Sidik jarinya bahkan masih bisa dikenali dengan jelas, mempermudah proses identifikasi.
Kabar ini tentu saja menghantam keras. Keluarga, rekan-rekan kerjanya, hingga komunitas penerbangan nasional berduka. Untuk mengenangnya, mari kita lihat lebih dekat sosok perempuan yang mendedikasikan hidupnya untuk keselamatan penumpang ini.
Darah Manado dan Ikatan Keluarga yang Kuat
Florencia berasal dari keluarga berdarah Manado. Ibunya sendiri asli Kendis, Minahasa, Sulawesi Utara. Dari sanalah, tampaknya, ia mewarisi semangat dan kehangatan khas orang Sulawesi.
Ikatan dengan keluarganya, terutama sang ibu, dikenal sangat erat. Menurut cerita kerabat, Olen adalah tipe yang selalu menjaga komunikasi. Apalagi saat ibunya sedang kurang sehat. Ia rajin menelepon, menanyakan kabar, memastikan semuanya baik-baik saja. Kedekatan itu bukan sekadar basa-basi, melainkan bagian penting dari hidupnya.
Jalur Pendidikan dan Awal Karier
Dunia komunikasi rupanya sudah lama ditekuninya. Florencia menyelesaikan studi Ilmu Komunikasi di Universitas Pelita Harapan (UPH) Jakarta. Latar belakang itu kemudian sangat membantunya saat berhadapan dengan ratusan penumpang dengan beragam karakter.
Kariernya di atas awan dimulai di PT Wings Abadi Airlines. Tak tanggung-tanggung, ia telah mengabdi lebih dari 14 tahun. Pengalaman sedemikian panjang menjadikannya sosok yang matang, tangguh, dan paham betul seluk-beluk dunia penerbangan.
Bagi Olen, perjalanan sama pentingnya dengan tujuan. Prinsip itu ia pegang teguh. Dalam setiap penerbangan, keselamatan dan kenyamanan penumpang adalah prioritas mutlak. Ia terkenal telaten, selalu memastikan setiap prosedur keselamatan dijalankan dengan benar sebelum pesawat lepas landas.
Lebih Dari Sekadar Pramugari: Seorang Mentor
Perannya tak cuma melayani di kabin. Florencia juga dipercaya membina pramugari-pramugari lain. Pada 2025, ia mengikuti pelatihan khusus untuk manajer pramugari selama delapan bulan. Bahkan, sejak 2012 hingga 2025, ia bertugas sebagai instruktur pemeriksa perusahaan.
Bagi banyak juniornya, Olen adalah tempat bertanya. Figur senior yang selalu siap membagi ilmu. Posisinya itu membuatnya kerap disandingkan dengan fungsi HRD dalam hal pembinaan awak kabin.
Sebelum pindah ke IAT sekitar tiga bulan sebelum musibah, ia menghabiskan 13-14 tahun kariernya di Lion Air. Anak bungsu dari enam bersaudara ini dikenal punya etos kerja tinggi.
“Dia juga jadi trainer untuk pramugari yang baru. Bisa dibilang seperti HRD,” ujar Ramos, salah satu anggota keluarganya.
Sosok Hangat di Balik Seragam
Di luar tugas profesionalnya, Olen adalah pribadi yang hangat dan perhatian. Tante dan sahabatnya menggambarkannya sebagai sosok penyayang. Ia tak pernah lupa meminta doa dari keluarga setiap kali akan berangkat tugas. Kerendahan hati dan kepeduliannya itu yang membuat banyak orang menyukainya.
Sayang, rencana bahagia yang sudah menanti harus kandas. Florencia diketahui sedang mempersiapkan pernikahan. Sang calon suami adalah seorang pilot. Meski tanggal pastinya belum ditetapkan, rencana itu sudah dibicarakan serius di keluarga.
“Iya, dia memang akan segera menikah. Kami semua sudah menantikan momen bahagia itu,” kata Juwita, seorang kerabat.
Yanti, keluarga korban di Tondano, juga menyebut hal serupa. Pernikahan itu direncanakan secepatnya. Rencana yang kini hanya tinggal kenangan.
Misi Terakhir
Florencia sedang menjalankan tugas rutin saat musibah terjadi. Penerbangan dinas dari Yogyakarta menuju Makassar. Pramugari berusia 33 tahun itu menjadi bagian dari awak kabin pesawat ATR 42-500 yang jatuh di wilayah pegunungan Sulawesi Selatan.
Pencarian tim SAR berakhir di Bulusaraung. Identifikasi berjalan cepat, berkat kondisi jasad yang masih memungkinkan pencocokan sidik jari.
Kepergiannya jelas sebuah kehilangan besar. Bukan hanya bagi keluarga, tapi juga bagi industri penerbangan yang ditinggalkannya. Ia dikenal disiplin, penuh tanggung jawab, dan selalu siap siaga. Bagi Olen, kesuksesan terbesar adalah ketika penumpang merasa aman dan nyaman, lalu kembali memilih maskapai yang sama.
Dedikasinya, profesionalisme, dan ketulusannya akan tetap dikenang. Florencia Lolita Wibisono pergi dalam tugas, meninggalkan cerita tentang pengabdian sepenuh hati di atas langit.
Artikel Terkait
Dari Suara Aneh hingga Laporan Hukum: Kronologi Bocornya CCTV Rumah Inara Rusli
Jangan Beli Buku hingga Jauhkan Sapu: Pantangan Unik Sambut Imlek 2026
Dedi Mulyadi Siapkan 3.000 Lowongan Kerja, Utamakan Lulusan SMK Jabar
Dedi Mulyadi Dikritik Usai Turun Langsung Evakuasi Korban Longsor