Akhirnya, jenazah Florencia Lolita Wibisono, pramugari pesawat ATR 42-500 yang hilang, berhasil ditemukan. Ia adalah korban kedua yang berhasil dievakuasi oleh tim gabungan.
Penemuan itu terjadi Senin lalu, tanggal 19 Januari 2026. Lokasinya di puncak Gunung Bulusaraung, tepatnya di sebuah jurang yang kedalamannya mencapai 500 meter. Setelah dievakuasi, proses identifikasi segera dilakukan oleh tim DVI.
Menurut Kabid Dokkes Polda Sulsel, Kombes Muhammad Haris, identifikasi dilaksanakan pada Selasa malam berikutnya. Hasilnya pun keluar: jenazah dengan nomor postmortem 62B.01 cocok dengan data antemortem AM004.
“Teridentifikasi sebagai Florencia Lolita Wibisono, perempuan, 33 tahun. Beralamat di apartemen Wak Tower A unit 216, Buleleng, Jakarta Timur,” jelas dr. Haris dalam rilis di Bidokkes Polda Sulsel, Rabu (21/1).
Lalu, bagaimana proses penemuan jenazah Florencia di medan yang begitu berat itu?
Medan Ekstrem dan Penemuan yang Mengharukan
Tim SAR gabungan harus berjuang menembus kabut dan lereng licin untuk mencapai lokasi. Florencia ditemukan dalam posisi tengkurap, tersangkut di dahan pohon di sebuah lereng terjal. Titik itu berada sekitar 100 meter sebelum bagian depan pesawat ditemukan.
“Di bawahnya, jurang sedalam 300 meter menganga. Bebatuan tajam dan risiko longsor mengintai. Kalau tidak tersangkut di pohon, mungkin jasadnya terjun lebih dalam lagi,” ujar Saiful Malik, anggota Tim SAR dari Arai Sulsel, yang menemukan jasad sekitar pukul 14.00 WITA.
Kondisi jenazah disebutkan masih utuh, meski ada luka serius seperti kaki kanan yang patah. Proses evakuasi sendiri makan waktu lama. Mereka harus menunggu kantong jenazah tiba di lokasi, lalu memindahkannya dengan sangat hati-hati.
“Kami harus bergerak pelan-pelan. Satu kesalahan kecil saja bisa berakibat fatal,” tegas Serda Marinir Syamsul Alam dari Yonmarhanlan Makassar.
Dia menambahkan, untuk keamanan di jalur terjal, jenazah dalam kantong sempat digantung sebelum akhirnya bisa dibawa ke jalur utama dan diterbangkan ke RS Bhayangkara Makassar untuk otopsi.
Proses Identifikasi: Sidik Jari Masih Terbaca
Di sisi lain, proses identifikasi berjalan relatif lancar. Kapusident Bareskrim Polri, Brigjen Pol Mashudi, menyebut sidik jari korban masih bisa terbaca dengan jelas.
“Papiler di sidik jarinya masih bagus, jadi alat kami bisa langsung membaca identitasnya. Tapi untuk kepastian ilmiah, kami ambil sidik jari jempol kiri dan bandingkan manual dengan data pembanding. Dari situ kami yakini itu benar Florencia Lolita Wibisono,” papar Mashudi.
Petunjuk Awal dari Name Tag
Sebelum identifikasi resmi, tim di lapangan sudah mendapat petunjuk. Saipul Malik dari Tim SAR menyebutkan, saat mendekati jenazah, terlihat name tag yang masih menempel.
“Saya lihat ada name tag-nya. Perempuan. Saya tidak berani memastikan, tapi dari manifest awak di Manado, kemungkinan Ester atau Florencia. Florencia kayaknya,” kenang Saipul.
Demikianlah kronologi lengkapnya. Sebuah operasi SAR di medan paling sulit, yang akhirnya berhasil membawa pulang satu lagi korban musibah tersebut.
Artikel Terkait
Dari Suara Aneh hingga Laporan Hukum: Kronologi Bocornya CCTV Rumah Inara Rusli
Jangan Beli Buku hingga Jauhkan Sapu: Pantangan Unik Sambut Imlek 2026
Dedi Mulyadi Siapkan 3.000 Lowongan Kerja, Utamakan Lulusan SMK Jabar
Dedi Mulyadi Dikritik Usai Turun Langsung Evakuasi Korban Longsor