Guru SD di Serpong Diduga Cabuli Belasan Murid, Sudah Berlangsung Sejak Tahun Lalu

- Selasa, 20 Januari 2026 | 21:50 WIB
Guru SD di Serpong Diduga Cabuli Belasan Murid, Sudah Berlangsung Sejak Tahun Lalu

Suasana di SDN 01 Rawa Buntu, Serpong, belakangan ini mencekam. Seorang guru berinisial Y, usianya 55 tahun, diduga terlibat dalam perbuatan yang sulit diterima akal sehat: mencabuli belasan muridnya sendiri. Kabar buruk ini tentu saja membuat para orang tua murid naik pitam.

Laporan pun akhirnya berujung ke meja polisi. Tri Purwanto, Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Tangsel, mengonfirmasi hal itu. Awalnya, ada 13 orang tua yang datang mengadukan. Namun setelah diklarifikasi, sembilan di antaranya yang kemudian resmi melaporkan kasus ini ke Polres Tangsel.

“Mereka sudah membuat laporan dan proses hukumnya kita serahkan kepada Unit PPA Polres Tangsel. Untuk kejadian, kita belum mengetahui detailnya,” ucap Tri Purwanto.

Yang membuat hati miris, dugaan kejahatan ini bukanlah hal baru. Menurut pengaduan yang diterima, aksi bejat itu sudah berlangsung cukup lama dari sekitar Juni tahun lalu hingga Januari 2026. Tentu saja, rentang waktu yang panjang ini berpotensi memunculkan lebih banyak korban. Meski begitu, detail teknisnya masih diselidiki polisi.

Di sisi lain, pihak sekolah sudah mengambil langkah tegas. Guru berinisial Y itu kini telah dirumahkan. Surat pernyataan resmi dari Kepala UPTD SDN Rawabuntu 1, Tarmiati, tertanggal 15 Januari 2026, menegaskan hal itu. Sang guru dinonaktifkan sampai waktu yang belum ditentukan, sementara penanganan kasus dialihkan ke Disdikbud Tangsel.

Saat ini, fokusnya adalah pada pendampingan korban. UPTD PPA Tangsel berkomitmen mendampingi anak-anak dan keluarganya selama proses hukum berjalan. Mereka juga akan terus berkoordinasi dengan kepolisian.

“Kami ingin kasus ini selesai secara hukum dan yang terbaik untuk anak-anak,” tegas Tri Purwanto.

Harapannya jelas: proses hukum berjalan tanpa halangan, dan para korban kecil ini mendapat keadilan serta pemulihan yang mereka butuhkan. Masyarakat pun menunggu, dengan perasaan campur aduk antara geram dan harap.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar