Lahirnya Homo Eggiensis: Sindiran Pedas Sutoyo Abadi Soal Restorative Justice dan Etika Hukum yang Mati
Pagi itu, Sutoyo Abadi membuka ponselnya. Langsung muncullah sebuah tulisan dari Prof. Daniel M. Rosyid di grup WhatsApp "Konstitusi". Isinya cuma satu frasa: Survival of the fittest. Bagi Koordinator Kajian Politik Merah Putih itu, frasa itu seperti kunci yang membuka segala kritiknya. Ia melihat, proses restorative justice ala Eggi Sudjana dalam kasus glorifikasi ijazah bukan sekadar penyelesaian hukum. Lebih dari itu, ia menyebutnya sebagai sebuah mutasi.
“Gambaran metamorfosis seorang Eggi Sudjana untuk bertahan hidup dari ketakutan akut setelah ditetapkan sebagai tersangka, sejak itu terus bergolak lobi kesana kemari semua dipertaruhkan,” ujar Sutoyo.
“Endingnya terjadi restorative justice, di depan ‘Tuan barunya’ Jokowi,” sambungnya.
Menurutnya, di titik itu, harga diri dan martabat perjuangan seolah tak lagi penting. Yang tersisa hanya jalan meminta maaf dan pujian berlebihan. Hasilnya? Eggi langsung mendapat SP3. Sutoyo dengan sarkasme khasnya menyebut ini sebagai kelahiran spesies baru: dari Homo sapiens berubah jadi Homo cebongensis dan Homo kampretensis. Kini, lahir lagi Homo eggiensis. Mutasi ini, katanya, tentu dirayakan diam-diam oleh Homo soloensis.
Di sisi lain, protes tetap ada. Rizal Fadhilah, seperti dipantau di berbagai media, menyatakan SP3 dari Polda Metro Jaya itu cacat yuridis dan tidak sah. Tapi bagi Sutoyo, dalam dunia Eggi yang sudah menang, protes semacam itu bagai teriakan di angkasa. Tak digubris.
“Fakta di dunia Eggi telah menjadi pemenang dengan gelar sebagai Ternak Mulyani (TerMul),” tegasnya.
Artikel Terkait
Kotak Hitam ATR 42-500 Ditemukan Utuh di Lereng Bulusaraung
Farhat Abbas Beri Gelar Termul Baru untuk Eggi Sudjana Usai Dukung Keaslian Ijazah Jokowi
Pramugari ATR 42-500 Akhirnya Teridentifikasi Setelah Ditemukan di Jurang Bulusaraung
Keluarga Bawa Pulang Jenazah Pramugari dari Tebing 500 Meter di Pangkep